Assalamu'alaikum. Teman-teman, berikut adalah makalah yang saya dan teman2 sekelompok saya buat untuk tugas mata kuliah Pengenalan Farmasi dan Kesehatan. Isinya sebagian besar diambil dari USPDI (United State Pharmacopeial Drugs Information (bener gak ya, singkatannya?hehe)). Cuma ada sedikit kesalahan. Karena kita ambilnya dari terbitan 1995, jadinya ada info yang kelewat. Jadi, seharusnya Methyldopa ini adalah obat antihipertensi yang PALING cocok dan PALING disarankan untuk Ibu-Ibu hamil. Saat ini (dari sumber yang terbaru) obat methyldopa memang hanya diperuntukkan untuk Ibu-Ibu hamil saja.
Ini link untuk membaca/mengunduh makalahnya:
https://docs.google.com/document/pub?id=1-Wl1F0TT9ghL8jHH048SR4B6B_ZHA79qn88Ce6XOygE
Dan..Mungkin untuk lebih jelas tentang penggunaan metildopa pada Ibu Hamil, artikel yang saya ambil dari http://yosefw.wordpress.com/2008/01/01/penggunaan-metildopa-pada-ibu-hamil-dengan-hipertensi-kronik/ ini, bisa membantu :)
https://docs.google.com/document/pub?id=1XpfoEoDcCck_NkKm1jJxzNDeO_TWPDfuEBw29Q26-y0
Terimakasih..
Semoga bermanfaat! :D
Wassalam...
Untaian kalimat @azahira. Mencoba menggali hikmah di balik tiap-tiap skenario-Nya. Silahkan ambil yang bermanfaat, ingatkan penulis bila ada yang melenceng. Semoga menginspirasi, mari saling berbagi :) *Berusahalah, pasti bisa! In syaa Allah :)
Tampilkan postingan dengan label My Knowledge Portal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Knowledge Portal. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 November 2011
What I Get About Pharmacy? 4 - Tentang Karotenoid
(sumber di bawah)
Karotenoid merupakan salah satu contoh senyawa metabolit sekunder dari jenis terpenoid. Karotenoid adalah kelompok pigmen alami yang berwarna merah, orange atau kuning dan larut dalam lipid. Senyawa ini telah banyak digunakan sebagai pewarna alami makanan dan kosmetik, selain itu juga dikenal sebagai komponen penting pada pertumbuhan tanaman dan fotosintesis, serta sebagai sumber vitamin A pada manusia. Karotenoid terdapat dalam berbagai buah berwarna seperti pepaya, pisang, tomat, cabe merah, mangga, wortel, ubi jalar dan pada beberapa bunga yang berwarna kuning dan merah. Diperkirakan lebih dari 100 juta ton karotenoid diproduksi setiap tahun di alam (Medplant.nmsu.edu).
Solanaceae merupakan suatu famili yang mencakup sayur-sayuran dan tumbuh baik di daerah tropik. Salah satu genusnya adalah Capsicum dan terdiri dari Capsicum annum, Capsicum frustescens, Capsicum baccatum, Capsicum chinense, dan Capsicum pubescens. Capsicum merupakan tanaman seperti semak menahun yang menghasilkan buah yang sangat pedas, tanaman ini sesuai untuk kondisi dataran rendah. Masyarakat telah lama memanfaatkan tumbuhan genus ini untuk pewarna alami pada makanan, rempah-rempah, dan obat tradisional. Karena manfaat tersebut, maka tumbuhan ini merupakan salah satu tumbuhan ekonomi yang penting (www.callantiles.com).
Capsicum annum (cabe merah) dan Capsicum frustescens (cabe rawit) merupakan salah satu sumber pigmen karotenoid yang baik. Penelitian tentang komposisi karotenoid pada Capsicum annum, yaitu pada cabe merah (paprika merah) sudah lama dilakukan, penelitian pertama mengenai distribusi karotenoid dari paprika merah dari varitas lycopersiciforme rubrum secara kualitatif dan kuantitatif oleh von Cholnoky (1927), menghasilkan senyawa karotenoid merah (capsantin, capsorubin dan criptosantin). Senyawa-senyawa itu terbentuk dari karotenoid 5,6-epoksi (anterasantin, violasantin dan criptosantin 5,6-epoksida). Sedangkan pada cabe kuning (paprika kuning) dari varitas lycopersiciforme flavum juga ditemukan banyak senyawa karotenoid 5,6-epoksi, tetapi senyawa-senyawa ini tidak dimasukkan dalam karotenoid merah. Penelitian yang dilakukan oleh Jozsef Deli pada tahun 1990an di Hungaria ini bertujuan untuk mempelajari perubahan karotenoid secara kuantitatif dari varitas paprika yang berbeda (C.annum var. lycopersiciforme flavum; C.annum var. longum nigrum; C.annum var. longum ceratoides; dan C.annum var. abreviatum pendens). Hal ini dilakukan untuk menghubungkan jalur biosintesis karotenoid dari paprika kuning dengan karotenoid pada paprika merah (Deli, 2001). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dietmar dan Ameneh di Jerman (tahun 2001) pada bermacam-macam sayuran dan buah-buahan, diantaranya pada C. annum dan C. frustescens, telah berhasil mendapatkan berbagai zat warna santofil seperti zeasantin, violasatin, criptosantin, capsantin dan lutein (Breithaupt, 2001).
Secara kemotaksonomi, adanya kandungan senyawa kimia yang sama dari beberapa tumbuhan akan mempertemukan kelompok tumbuhan itu dalam satu taksonomi. Kandungan senyawa kimia pada tumbuhan dalam satu famili atau satu genus, kemungkinan besar memiliki beberapa kesamaan, hanya saja intensitasnya bisa berbeda tergantung dari tantangan alam yang dihadapi oleh spesies tersebut. Dalam penelitian ini objek yang digunakan adalah cabe rawit merah yang tumbuh di Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan teori ini, timbul suatu permasalahan yaitu senyawa zat warna apa saja yang terkandung dalam buah cabe rawit merah (Capsicum frustescens), apakah sama dengan senyawa yang ditemukan pada buah cabe merah (Capsicum annum) hasil penelitian-penelitian terdahulu.
What I Get About Pharmacy? 3 - Rahasia Buah Oren yang Manis
Salah satu dari tumbuhan yang biasa digunakan sebagai tumbuhan obat adalah
tumbuhan Mangga (Mangifera indica L) famili Anarcardiaceae. Tumbuhan Mangga
(Mangifera indica) tergolong kelompok buah berdaging dengan bentuk, ukuran,
warna, citarasa yang beranekaragam. Bagian tumbuhan Mangga yang paling penting
dan berguna dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama bagi kesehatan adalah
getah, kulit batang, buah muda, dan buah masak. Getah Mangga dari bagian batang
atau ranting dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk penyakit luar, seperti
eksim, kudis, dan gatal-gatal. Penyakit rematik atau persendian nyeri dapat diobati
dengan menggunakan kulit batang pohon Mangga. Buah Mangga muda selain dapat
digunakan sebagai manisan, juga berkhasiat sebagai obat beberapa jenis penyakit.
Di India Mangga yang masih hijau digunakan sebagai obat gangguan darah, empedu,
dan pencernaan, membantu pembentukan sel-sel baru, mencegah pendarahan, dan
menyembuhkan sariawan. Selain itu buah Mangga muda dapat berkhasiat untuk
mengatasi diare, disentri, wasir dan sembelit (Rukmana, 1997).
Buah Mangga memiliki kemampuan antioksidatif yang dihasilkan oleh berbagai
senyawa yang terdapat di dalamnya, yaitu betakaroten senyawa yang dapat
memberikan perlindungan terhadap kanker karena dapat menetralkan radikal bebas.
Vitamin E, vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta memperkecil
kemungkinan terjangkitnya berbagai bakteri dan kuman. Buah Mangga juga
mengandung senyawa flavonoid. Kandungan flavonoid dalam buah Mangga yang
mempunyai gugus hidroksi bebas dapat menghambat aktivitas sitokrom (Aminary,
2009).
Tumbuhan Mangga ini sudah pernah diteliti sebelumnya yang mengandung
senyawa kimia yaitu antosianin. Kandungan Antosianin ini dapat ditemukan pada
batang, kulit buah dan daun mangga. Antosianin pada kulit buah Mangga dijumpai
sebagai paenoidin 3-galactoside (Sukartini, 2008).
O- Flavonol dan C- glikosida xanton juga merupakan hasil ekstraksi dari kulit
buah tumbuhan Mangga (Mangifera indica L) dan dikarakterisasi menggunakan alat
HPLC. Diantara komponen yang telah dianalisa, tujuh senyawa merupakan turunan
quercetin O-glikosida, dan empat turunan xanton C-glikosida juga telah ditemukan
pada tumbuhan tersebut (Andreas, 2003)
Dari hasil skrinning fitokimia diketahui bahwa di dalam kulit batang Mangga
terdapat senyawa flavonoida. Dari uraian diatas dan berdasarkan literatur, maka
penulis tertarik untuk mengisolasi senyawa kimia bahan alam hayati dari golongan
flavonoida yang terkandung dalam kulit batang Mangga.
Salah satu metode yang digunakan untuk mengisolasi senyawa flavonoid adalah:
1. Tahap awal dilakukan uji skrining fitokimia untuk senyawa flavonoida, yaitu dengan menggunakan pereaksi FeCl3 5%, NaOH 10%, Mg-HCl dan H2SO4(p ).
2. Tahap isolasi yang dilakukan :
a.Ekstraksi Maserasi
b.Ekstraksi Partisi
c.Analisis Kromatografi Lapis Tipis
d.Analisis Kromatografi Kolom
e.Rekristalisasi
3. Tahapan analisis hasil isolasi yang dilakukan adalah:
a. Analisis Kromatografi Lapis Tipis
b. Pengukuran titik lebur
c. Identifikasi dengan menggunakan Spektrometri UV-Visible, Spektrofotometri Infra Merah (FT-IR) dan Spektrofotometri Resonansi, Magnetik Inti Proton (1H-NMR).
Sumber:
Pasaribu, Eka Maulina. 2011. Isolasi Senyawa Flavonoida Dari Kulit Batang Tumbuhan Mangga (Mangifera Indica L). Medan: USU.
Rabu, 21 September 2011
What I Get About Pharmacy? 2 - Mengendalikan Kolesterol Tinggi dengan Herba & Pola Hidup Sehat
Kolesterol sering dianggap sebagai penyebab berbagai penyakit mematikan seperti jantung koroner dan stroke. Hal tersebut dapat terjadi apabila konsentrasi kolesterol dalam darah tinggi yang disebut dengan hiperkolesterolemia. Oleh karena itu, agar kolesterol tidak memicu penyakit harus dikendalikan agar kadarnya tidak berlebihan. Kolesterol merupakan salah satu senyawa lemak seperti lilin dan berwarna kekuningan. Sebagian besar kebutuhan kolesterol tubuh di produksi oleh hati. Di dalam tubuh, kolesterol mempunyai fungsi penting yang diperlukan dalam berbagai proses metabolisme, seperti untuk bahan pembentuk dinding sel, pembentukan hormon misal hormon seks, pembungkus jaringan saraf, membuat vitamin D yang penting untuk kesehatan tulang, bahan pembentukan asam dan garam empedu yang berfungsi untuk mengemulsi lemak, juga untuk perkembangan sel-sel otak pada anak-anak. Dengan demikian dalam kadar normal kolesterol mempunyai banyak manfaat, tetapi akan menjadi masalah bagi tubuh jika kadarnya berlebihan. Trigliserida merupakan lemak utama di dalam tubuh, dibentuk di hati dari gliserol dan lemak yang berasal dari makanan atau dari kelebihan kalori akibat makan berlebihan. Hampir seluruh triglesirida terutama yang bersifat jenuh dapat diserap oleh tubuh. Sehinga pengkonsumsian makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Trigleserida tinggi seringkali berkaitan dengan kegemukan. Kelebihan trigliserida akan ditimbun dalam jaringan di bawah kulit. Dalam proses pencernaan, sumber lemak dari makanan dipecah menjadi sebagian besar trigliserida dan sisanya merupakan kolesterol, asam lemak bebas, dan fosfolipid. Semua senyawa lemak tersebut diserap ke dalam darah. Kolesterol dan trigliserida berikatan dengan protein tertentu (apoprotein) membentuk lipoprotein sehingga dapat larut dalam darah. Ikatan lipoprotein tersebut terdiri atas beberapa fraksi yaitu kilomikron, very low density lipoprotein (VLDL), intermediate density lipoprotein (IDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Diantara ikatan lipoprotein tersebut yang paling perlu diketahui adalah LDL atau lipoprotein densitas rendah dan HDL atau lipoprotein densitas tinggi. LDL dan HDL mempunyai fungsi yang berlawanan. LDL bersifat efek aterogenik dan disebut juga dengan kolesterol jahat karena mudah melekat pada pembuluh darah dan menyebabkan penumpukan lemak yang lambat laun mengeras (membentuk flak) dan menyumbat pembuluh darah yang disebut dengan aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri). Proses aterosklerosis yang terjadi di pembuluh darah jantung dapat memicu terjadinya jantung koroner, apabila terjadi di pembuluh darah otak dapat menyebabkan terjadinya stroke. HDl disebut juga dengan kolesterol baik karena mempunyai efek antiaterogenik yaitu mengangkut kolesterol bebas dari pembuluh darah dan jaringan lain menuju hati selanjutnya mengeluarkannya lewat empedu. Kadar LDL yang tinggi cenderung disertai dengan kadar trigliserida yang tinggi pula, sedangkan apabila kadar HDL tinggi maka kadar trigliserida cenderung rendah. Pedoman profil lemak darah menurut Konsensus Nasional Dislipidemia di Indonesia Gaya hidup modern berkaitan erat dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kolesterol dan trigliserida tinggi, seperti makanan yang mengandung lemak jenuh dan kalori tinggi yang dapat menyebabkan kegemukan, kurang mengkonsumsi serat, merokok, kurang berolah raga dan stress. Kolesterol tinggi juga dipengaruhi olah faktor genetik dan usia, kecuali kedua faktor tersebut, faktor lainnya dapat dikontrol/dikendalikan. Untuk usaha pencegahan dan pengendalian kolesterol dan trigliserida tinggi diperlukan perbaikan sikap dan gaya hidup yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat, diantaranya yaitu : mengendalikan berat badan : pengurangan berat badan mampu membantu menurunkan kolesterol LDL dan trigliserida serta meningkatkan HDL. Olah raga secara teratur dapat melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kadar HDL. Mengatur pola makan : membatasi makanan berlemak dan kolesterol tinggi, serta membiasakan banyak mengkonsumsi buah dan sayur yang banyak mengandung vitamin C dan serat larut yang dapat membantu membuang kolesterol. banyak makan ikan laut yang mengandung asam lemak tak jenuh majemuk yang membantu menurunkan kolesterol. Mengubah kebiasaan : meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minuman beralkohol dan perilaku tidak sehat lainnya. Tanaman yang berkhasiat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida tinggi diantaranya mempunyai mekanisme kerja sebagai berikut :
Beberapa jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi kolesterol tinggi antara lain : 1.Daun Salam (Syzigium polyanthum Walp.) 2.Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) 3.Bawang Putih (Allium sativum L.) 4.Bawang Bombay & Bawang merah (Allium cepa L.) 5.Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) 6.Kunyit (Curcuma longa L.) 7.Jamur kuping hitam (Auricularia sp.) 8.Rumput Laut (Laminaria japonica) 9.Terung Ungu (Solanum melongena) 10.Daun Dewa (Gynura segetum [Lour] Merr.) 11.Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens Back.) 12.Daun jambu biji (Psidium guajava) 13.Daun Ceremai (Phyllanthus acidus) 14.Kulit Polong kacang tanah Berikut beberapa contoh resep ramuan tumbuhan obat untuk menurunkan kolesterol tinggi : Resep 1. 15 lembar daun salam + 2 buah mengkudu yang matang (dipotong-potong), dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum. Resep 2. 30 gram temu lawak (dikupas dan diiris-iris) + 15 gram daun dewa, semua bahan dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum. Resep 3. 2-3 siung bawang putih dihaluskan, diseduh dengan 150 cc air panas, lalu diminum. Resep 4. 10 lembar daun jambu biji + 30 gram daun ceremai, semua bahan dicuci bersih lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya diminum untuk 2 kali sehari, setiap kali 150 cc. Catatan : - pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur 2 kali sehari. - Untuk perebusan gunakan periuk tanah, panci enamel atau panci kaca. Food terapy (Masakan untuk membantu menurunkan kolesterol) - Terung ungu dikukus, dikasih sambal, lalu dimakan. Lakukan setiap hari - 15-30 gram jamur kuping hitam dimasak sop bersama bahan-bahan lain, lalu dimakan. |
Sumber: CBN |
What I Get About Pharmacy? 1 - EFEK SAMPING OBAT HERBAL TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT
Assalamu’alaikum..
Hai semuanya! J Kali ini saya mau mencoba berbagi artikel yg berhubungan sama dunia farmasi. Dunia yang (baru) akan saya geluti tahun depan.. Semoga artikel2 ini (bersambung dari post ke post ya) bisa jadi inspirasi, wawasan, dan tambahan ilmu buat seemuanya. Baik pelajar, mahasiswa, atau kalian-kalian yang sekedar mau nambah wawasan aja. Linknya juga udah saya taro di bawahnya. Ok, check it out! J
EFEK SAMPING OBAT HERBAL TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT
Pemakaian obat herbal pada kesehatan masyarakat meningkat ini dapat dilihat dengan larisnya produk obat herbal seperti jamu sebagai obat tradisional. Namun ada beberapa hal penting perlu diperhatikan dalam pemakain obat herbal bagi kesehatan.
Upaya menempatkan obat herbal sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan formal harus disertai peningkatan mutu, standardisasi dari hulu ke hilir, dan pelaksanaan uji farmakologi agar terbukti khasiat dan keamanannya. Tujuannya untuk menghindari kemungkinan adanya efek samping obat herbal dan memenuhi sebagian kebutuhan obat nasional.
“Selama ini upaya beralih ke obat herbal masih sulit dilakukan karena khasiat dan keamanannya belum terjamin, kandungan senyawa aktifnya belum terstandar, sehingga sulit menentukan dosis pemakaian,” kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rifatul Widjhati.
Menanggapi pernyataan dr Hedi R Dewoto dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI mengenai efek samping penggunaan sejumlah obat herbal, Rifatul menyatakan, kandungan pada bahan alam umumnya bersifat seimbang dan saling menetralkan. Jadi, efek samping obat herbal jauh lebih kecil dibandingkan dengan obat sintesa.
Menurut Rifatul, tumbuhan umumnya punya ratusan senyawa kimia dan ada yang memiliki efek keras atau toksik, di antaranya senyawa berkhasiat anti- kanker, digitalis sebagai obat jantung pada tanaman Ephedra.
Namun, obat herbal produk lokal di Indonesia jarang menimbulkan efek berbahaya karena sudah dikenal turun-temurun. Diakui, ada sejumlah tanaman obat yang belum dikenal efek toksisitasnya, tetapi belakangan ini banyak beredar, misalnya buah mahkota dewa dan buah merah papua.
Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Prof Wahono Sumaryono menambahkan, penggunaan obat secara majemuk (polifarmasi) tanpa penjelasan aturan pemakaian yang benar bisa menimbulkan interaksi yang merugikan. Hal ini bisa terjadi pada interaksi obat herbal dengan obat modern, atau interaksi antarobat modern yang reaksinya berlawanan, atau mengurangi efek terapi.
Interaksi obat modern dengan makanan atau minuman yang mengandung zat tertentu bisa merugikan jika tidak jelas aturan pakainya. Misalnya, minum alkohol dengan asetosal dapat menyebabkan perdarahan lambung, minuman kaya CO2 (minuman ringan) berpotensi menyebabkan perdarahan kapiler jika diminum dengan obat penurun tekanan darah tinggi.
Dosis pemakaian
“Efek toksik obat herbal bisa dihindari jika cara pemakaian benar dan sudah diuji praklinik dan uji klinik, seperti dilakukan pada obat konvensional,” kata Rifatul. Untuk menghindari ekses pada obat herbal, Badan POM mendorong uji khasiat dan keamanan sebelum obat herbal dapat izin edar. Hingga kini, jumlah obat herbal terstandar 19 produk dan fitofarmaka baru 5 produk.
Standardisasi obat herbal lebih tepat dilakukan jika diterapkan kaidah “Cara yang Benar” pada proses pembibitan hingga produksi. “Dalam rangka harmonisasi obat tradisional tingkat ASEAN, pemerintah perlu melakukan standardisasi obat herbal untuk menjamin mutu dan keamanan produk, di antaranya diuji toksisitasnya dan uji klinik,” ujar Charles Saerang, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia.
Pengusaha jamu Irwan Hidayat menambahkan, sejauh ini mayoritas perusahaan jamu telah memproduksi jamu berdasarkan referensi berstandar internasional sesuai dengan aturan Badan POM. “Jika ada obat herbal di luar referensi, bisa diuji toksisitasnya untuk meningkatkan kepercayaan konsumen,”
Langganan:
Postingan (Atom)