Tampilkan postingan dengan label metode belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode belajar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Sampaikan sesuai dengan bahasa mereka :)

Kemarin merupakan salah satu hari yang berkesan buat saya. Pasalnya, Alhamdulillaah, saya berkesempatan untuk pulang ke rumah, bertemu kembali dengan kedua orangtua saya :).

Ada yang berbeda dari perjalanan pulang kali ini. Kali ini saya pulang berdua dengan adik saya, dan kali ini kami tidak langsung pulang ke Serang, melainkan ke Tangerang. Rencana ini dibuat karena kami, bersama kedua orangtua kami, berniat menjenguk adik bungsu kami yang sedang mondok di salah satu ponpes di Tangerang. Akhirnya, berangkatlah kami berdua ke Tangerang.

Sesampainya di sana, kami memutuskan untuk mencari makan siang lebih dulu. Yap, tempat makan siang pun didapat. Selagi menunngu pesanana, Bapak saya pergi ke toko besi yang terletak di seberang tempat makan. Beliau pergi ke sana dengan maksud ingin membeli lem apoksi (maaf ya kalau tulisannya salah). Sepulang dari sana, beliau menceritakan apa yang dialaminya di sana. Beginilah ceritanya...
****

Tadi Bapak mau cari lem apoksi, terus bilang sama mas-nya.., "Mas, ada lem apoksi?".
Si mas-nya kebingungan dan langsung nanya ke engkoh-nya. Si engkohnya geleng-geleng. Mas-nya balik dan bilang ke bapak, "Gak ada, Pak"..
Padahal, waktu itu bapak lihat tuh di rak atas, ada lem apoksi.. Ya udah bapak bilang, "Oooh, gak ada ya mas? Hm, yaudah deh saya ambil lem yang itu aja (sambil nunjuk ke arah lem yang dimaksud)."
Si mas langsung ngambil, dan bilang, "Oooh, 'dexton'"..
Haha, Dexton itu nama merk lemnya, dan padahal jelas di bawah tulisan Dexton itu ada tulisan lem apoksi..
...
(Bapak saya diam sejenak, sambil tersenyum penuh arti).
Itu dia.. kenapa kita memang harus menyampaikan sesuatu sesuai dengan bahasa yang dimengerti sama lawan bicara kita. Karena.. kalau kita memaksakan dengan bahasa atau frame pikiran kita, bakal sulit diterimanya...

****
:)
Hikmah di atas bukan hanya berlaku dalam transaksi jual beli tentunya. Dalam setiap hal, termasuk mengajarkan seseorang atau menyampaikan suatu pesan kebaikan pada orang lain pun begitu. Akan lebih mudah menyampaikan pesan kebaikan tersebut bila kita menggunakan bahasa yang biasa mereka pakai.
Contoh praktisnya adalah, bila kita ingin menyampaikan materi farmasi atau penyuluhan kesehatan (misalkan)  yang punya banyak istilah asing kepada masyarakat awam, tentunya bukan istilah asing tersebut yang kita sampaikan. Seperti halnya istilah hipoksia.. Tak mungkin kita sampaikan, "Ya bapak,ibu, jadi kalau bapak ibu kurang makan makanan X, nanti darah bapak Ibu hipoksia looh.." Waah bisa jadi bapak ibu peserta penyuluhannya kebingungan, ngantuk, terus ngabur.. Tentu bahasanya bisa kita sesuaikan menjadi, "Ya bapak,ibu, jadi kalau bapak ibu kurang makan makanan X, nanti darah bapak Ibu kekurangan oksigen looh..". Begitu contohnya.. Tentu sahabat2 tahu sendiri istilah istilah asing di bidang sahabat masing-masing yang perlu disesuaikan dengan bahasa penerimanya.
Begitu pun dengan istilah Agama yang tidak semua orang paham.

Hehe, ternyata sahabat, dari kejadian kecil yang terjadi di kehidupan sekitar kita, ada banyaak sekali pembelajaran hidup yang bisa kita dapatkan, yang gak kita dapatkan di sekolah formal.

Sip, sip, semoga bermanfaat! Semoga kita bisa jadi penyampai pesan kebaikan yang cerdas dan adaptif dengan si penerima pesan kita :)
Wassalaamu'alaykum.

Senin, 24 Juni 2013

Two-Way Learning: Mau dapat 50% atau 90%?? :D

Assalaamu'alaikum.
Hehe. Sedikit berbagi lagi.. Hm, saya lagi kepikiran tentang metode belajar. Alhamdulillaah, kemarin2 sempat dapat kesempatan belajar dari trainer bidang pendidikan berbasis International NLP (Neuro-Linguistic Programming), kang Surya Kresnanda :D.
Mungkin kita udah sering denger ya.. Katanya belajar itu lebih enak kalo dua arah. Kalo satu arah malah bikin ngantuk, bosen, walhasil gak ngerti.
Hehe, insya Allah itu gak salah. Nyatanya, berdasarkan hasil penelitian sekitar tahun 1983 (siapa penelitinya agak lupa, ada Anderson-nya aja.. Insya Allah abis saya cek lagi, nanti saya post Di comment ya hehe), dengan one-way learning, paaaling MAKSIMAL, kita dapat pembelajaran hanya 50%nya SAJA. Jadi pemahaman kita ya hanya separuhnya juga.
Tapii kalau pake two-way learning, MINIMAL kita dapat pembelajaran 70%. Maksimal 90%. Nah dengan apa persentase itu didapat?
70% pembelajaran manusia didapat dari "DO" (melakukan), daan 90%nya dari "SAY&DO" (katakan Dan lakukan). Maka ketika kita berani belajar dengan mempraktekkannya, tentu kita akan mendapatkan pembelajaran+pemahaman yg lebih baik daripada mereka yang hanya duduk mendengarkan apalagi hanya membaca teorinya. Lalu, jika kita gabungkan antara "katakan Dan lakukan" (bisa didefinisikan dengan mengajarkannya kembali; atau kalau saat sedang belajar, biasanya ketika guru/trainer sedang memberi materi lalu beliau tiba2 meminta kita untuk mengulang perkataannya, Di situ kita juga bisa dapat "SAY"-nya), insya Allah kita akan dapat 90%.
Subhanallaah, Di Islam sendiri, ilmu yang diamalkan pun sangat diutamakan ya.. Artinya selain memang ketika kita mengajarkan orang lain, orang tersebut akan mendapatkan manfaatnya, Allaah Sudah tahu bahwa kita pun akan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari itu (selain pahala yang tak putus tentunya). Hal ini juga yang mungkin sering membuat kita merasa bahwa semakin kita sering mengajarkan ilmu  kita pada orang lain, semakin mantap pula ilmu yang kita miliki tersebut, malah sama sekali tidak mengurangi ilmu kita tersebut :).
Hehe, so, mulai sekarang biar semua pelajaran yang kita dapatkan (baik pelajaran akademik Di sekolah, ataupun pelajaran hikmah kehidupan, hehe) lebih efektif, Mari marrri maksimalkan two-way learning! Katakan Dan Lakukan!!!

Wallahu a'lam.
Wassalaamu'alaikum.
Aliya Nur Zahira.

The Most Effective Learning

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Udah lama sebenarnya pengen ngepost tentang ini. Saya tiba2 keinget ttg satu hal tentang pembelajaran waktu ngeberesin buku2 pelajaran SMA.

Belajar dari Kesalahan? Pernahkah kita melakukannya. Hmm, kalau salah insya Allah semua juga pernah ya hehehe.. Nah terus pernah gak kita menyadari satu hal dari kesalahan tsb???

Selama ini, kadang kita sering mengeluh.. Kenapa sih susah banget belajar A, B, C atau D.. ? Udah belajar sih, tapi sebulan kemudian udah lupaa -_- atau ngeluh karena kok kita kyknya lupa terus ya Mau ngelakuin sesuatu? Misal, setiap kita Mau cuci piring kita lupaa terus ngebersihin sisa ampas/sampah2 bekas makanan yang nyangkut di saringan. Tapi begitu kita dapet kejadian kayak tiba2 suatu pagi pas kita bangun, seorang bapak kecoa lagi duduk anteng di sana. Dan apa yang akan kita lakukan?

"Aaaaa!!"
Mungkin itu reaksi yg kita keluarkan hhe. Terus sedetik kemudian, kita langsung berubah jadi manusia terajin. Hhe. Langsung ngusir kecoa, terus buru2 bersihin si tumpukan ampas sampeee bener2 bersih, kalau bisa kayak baru lagi hehe.
Abis itu?

Naaah. Ini dia nih.. Biasanya kalau kita abis kena pengalaman buruk kyk gini, yg terjadinya gara2 kesalahan kita, memori kita bakal mengingatnya lebih kuaaat dari pada kejadian yg normal2 aja.. That's why, setelah itu kita gak lagi males ngebersihin ampas cuci piring langsung setelah cuci piring. Karena begitu nunda2, langsung deh keinget bapak kecoa tadi hehe.

Saya pun sering kejadian hhe. Contohnya mulai dari kegiatan akademik saya akan lebih mudah mengingat pelajaran yang waktu ujian (atau pas ngapalinnya) salah. Begitu juga Hal lainnya. Kayak pas kesasar, salah lewat jalan, otomatis setelah itu kalau ketemu jalan itu lagi sy bakal inget banget Dan gak Mau lagi lewat jalan itu karena buntu misalkan.

Kira2 dari sini apa hikmah yg bisa diambil? :) hehe. Tentunya, insya Allah bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Misalkan yg insiden bapak kecoa tadi. Hikmahnya adalah setelah kejadian itu kita jadi orang  yang lebih memperhatikan kebersihan rumah, karena gak Mau lagi kejadian itu terjadi.
Hikmah lainnya, bahwa sebenarnya kita tak perlu takut salaaah! Yeah! Hhe. Karena ketika kita salah, justru pada saat itulah sebenarnya kita sedang belajar sesuatu, belajar untuk jadi lebih baik. Kayak Di soal akademik tadi. Ketika kita memberanikan diri maju ke depan, terus jawabannya salah, jgn khawatir, guru/teman2 kita akan membenarkan jawaban kita. Di saat itu, kita looh yg dapat pembelajaran paling besar hehe. Termasuk ketika salah atau merasa gagal melakukan public speaking Di depan umum. Justru pada saat kita merasa gagal itulah, masukan dari orang lain (bahkan dari yang lebih ahli) akan banyak berdatangan. Dan hasilnya? Kalau kita mengikuti saran2 yang baik, insya Allah kemampuan Public speaking kita pun akan semakin baik.

So, jangan takut bertindak (as long as it is a good action!). Jangan takut salah! Because you will be the luckiest person on that time, insya Allah! :D

Selamat beraktifitas, selamat berkarya!

Wallahu'alam.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

Aliya Nur Zahira.