Minggu, 13 Oktober 2013

Abstraknya Syukur

Apa kabar sahabat-sahabat?
Semoga selalu luar biasa, dengan tak lupa bersyukur atas segala nikmat yang masih Ia percayakan kepada kita :) Aamiin..

Sahabat, ketika mendengar kata "Abstrak", apa yang terlintas di benak sahabat-sahabat?
Ya, sesuatu yang tak dapat kita lihat, tak dapat kita deskripsikan wujudnya. Kembali mengacu ke KBBI online, katanya abstrak itu "tidak berwujud; tidak berbentuk". Contoh yang sering kita dengar dari benda abstrak adalah gravitasi. Kenapa gravitasi itu abstrak? Ya karena kita dapat merasakannya, namun tak dapat melihatnya! Tak juga dapat menyentuhnya..

Hehe, nah, tentu selain gravitasi banyak lagi contohnya hal abstrak yang ada di sekeliling kita. Seperti "rasa sakit".
Waktu kamu ditampar, 'plaaak!'.. Biasanya kita bilang, "Aw, sakit tahu!". Terus orang yang namparnya bakal bilang, "Mana sakitnya?? Tunjukkin dong!". Lah, ya mana bisa kita menunjukkan bentuk dari rasa sakit itu hehe. Yang ada, yang kita tunjuk adalah pipi kita. Yang jelas-jelas itu namanya pipi, bukan 'sakit' hehe.

Apa lagi coba benda abstrak itu? Pasti banyak ya, dan saya yakin, di kepala sahabat-sahabat juga sudah terbayang dan tersebutkan contoh benda-benda abstrak yang ada di sekitar kita.
Yup, salah satunya adalah yang sudah saya tuliskan dalam judul postingan ini, yaitu.... "SYUKUR".

kok syukur itu abstrak? Emang iya gitu?
Hm, mungkin lebih tepatnya, "syukur itu abstrak" adalah sebuah kiasan.
Secara langsung, syukur itu gak kelihatan!
Kita tidak bisa melihat seperti apa syukur itu. Tepatnya, saking abstraknya, seringkali kita yang sengaja tidak melihatnya, menutup-nutupi keberadaannya, tidak berusaha mewujudkannya, sampai jadinya abstrak beneran deh.

Sebelum lanjut, supaya lebih mantep, mari sama-sama kita simak, bayangkan, renungkan, dan rasakan setiap kata dalam kisah di bawah ini..

***
Ini tentang sekelumit kisah hidup seorang Ibu dosen di kampus A. Ibu ini terkenal tegas saat mengajar. Raut muka dan penampilannya pun sedikit terlihat 'garang' untuk ukuran seorang dosen perempuan. Sorot matanya tajam.
Cara mengajarnya bisa dibilang lumayan mudah dipahami. Selain menyampaikan materi kuliah, kadang juga, beliau suka menyindir kebijakan-kebijakan pemerintah dan kebijakan kampus A tempat beliau diajar dan mengajar. Sindirannya itu seringkali membuat mahasiswa-mahasiswa di kelasnya membulatkan mulutnya, "Ooooo, iya juga ya.. Kok baru kepikiran".. dan ekspresi-ekspresi lain yang sejenisnya.
Karena sikapnya yang demikian, mahasiswa banyak yang tak berani datang telat ataupun tidak serius mengikuti kelasnya. Biasanya kelas jadi sepi dan kondusif setiap beliau mengajar.
Kemudian, kabar itu datang. Berawal dari melihat deretan foto-foto lama (jadul) dosen-dosen di fakultas tersebut, ditemukanlah foto wajah yang mirip dengan Ibu dosen, lengkap dengan kerudung lebarnya.
Walhasil, penampakan itu mengagetkan tiap mahasiswa yang melihatnya. Apakah benar foto itu adalah sang Ibu dosen?
Nama di bawah foto itu akhirnya menjawab pertanyaan itu. Tidak salah lagi. Ya, tidak salah lagi, bahwa foto itu adalah sang Ibu Dosen yang rambutnya selalu dibiarkan terurai panjang itu.
Foto itu menunjukkan sosok sang Ibu Dosen saat baru lulus dari kuliahnya dulu. Seorang perempuan yang memakai kerudung kain lebar, layaknya aktifis-aktifis dakwah kampus. Tapi, sekarang? Kemana kerudungnya?
Selidik punya selidik, kabarnya, sang Ibu itu melepas kerudungnya saat mendapat kesempatan untuk menimba ilmu ke sebuah negara di belahan dunia barat sana.

Entah alasan apa yang membuat Ibu dosen kemudian melepas kerudungnya. Entah alasan peraturan pemerintah di sana, atau.. ah entahlah, mungkin mahasiswanya tidak ada yang tahu. Lantas bila hanya karena peraturan pemerintah di negara tersebut, mengapa setelah pulang dari sana, tak juga ia kenakan kembali kain segi empat itu?

***
Sahabat, terus terang, begitu saya mendengar kisah di atas, rasanya seperti ada petir yang menyambar di belakang kepala (agak #lebay, tapi beneran sih rasanya kayak gini hehe). Kaget, ya saya kaget sekali dan tiba-tiba rasa iba menyeruak kepada sang Ibu Dosen tersebut. Berjuta pertanyaan muncul di kepala saya.. "Ya ampun, kok bisa? Aduh, sayang banget yaa? Kenapa sih bisa dilepas? ....." dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Yang jelas saya dan teman-teman saya begitu dan sangat menyayangkan kejadian itu........ Innalillaahi...

:'(

Sampai saat ini, saya masih suka bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan Ibu Dosen 'rela' melepas jilbabnya saat itu? Apa karena faktor eksternal atau bahkan internal?? Kini, bila saya berkesempatan melihat Ibu Dosen tersebut, pandangan saya yang tadinya agak sedikit segan (karena penampilannya yang sedikit garang tadi) menjadi iba.. Ah, Ibu, mengapa kerudung itu harus dilepas?..

Sepulangnya di rumah, saya kembali merenung. Ya Allah, betapa sesungguhnya kita tuh (especially kaum muslimah) harus bersyukur... Apalagi bagi yang Alhamdulillaah, sudah memutuskan untuk berkerudung. Bersyukurlah sahabat, karena di zaman kita ini, kita bebas untuk menggunakannya. Tak jua ada larangan menutup aurat dari negara, pemerintah atau institusi-institusi tertentu tempat kita bekerja atau menimba ilmu. Dan yang paling penting, bersyukurlah karena Allah masih menjaga hati kita, agar tetap setia mempertahankan kerudung ini :") Alhamdulillaah...

bersyukurlah, bersyukurlah...
mudah-mudahan kita termasuk kelompok manusia yang mau membuka pandangan mata dan hati kita terhadap "syukur" tersebut. sehingga syukur tak perlu lagi menjadi sebuah benda abstrak yang tak bisa kita wujudkan "wujud"-nya.

apa sih wujud syukur itu sebenarnya? :)

Syukur bisa diwujudkan salah empatnya, dalam empat hal; Hati, Lisan, Harta, Perbuatan.

Bersyukur dengan perbuatan? Ya, syukurilah kerudungmu dengan jaga terus kehormatan dirimu sebagai wanita, jaga akhlakmu sebagai seorang muslimah, jaga dengan terus bergerak dan berjuang membawa syi'ar Islam dengan kerudungmu :).

Yuk, wujudkan ke-abstrak-kan syukur yang suka sengaja kita abstrakkan (hehe), dengan.. BERSYUKUR :)

Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam.


Sabtu, 12 Oktober 2013

Sampaikan sesuai dengan bahasa mereka :)

Kemarin merupakan salah satu hari yang berkesan buat saya. Pasalnya, Alhamdulillaah, saya berkesempatan untuk pulang ke rumah, bertemu kembali dengan kedua orangtua saya :).

Ada yang berbeda dari perjalanan pulang kali ini. Kali ini saya pulang berdua dengan adik saya, dan kali ini kami tidak langsung pulang ke Serang, melainkan ke Tangerang. Rencana ini dibuat karena kami, bersama kedua orangtua kami, berniat menjenguk adik bungsu kami yang sedang mondok di salah satu ponpes di Tangerang. Akhirnya, berangkatlah kami berdua ke Tangerang.

Sesampainya di sana, kami memutuskan untuk mencari makan siang lebih dulu. Yap, tempat makan siang pun didapat. Selagi menunngu pesanana, Bapak saya pergi ke toko besi yang terletak di seberang tempat makan. Beliau pergi ke sana dengan maksud ingin membeli lem apoksi (maaf ya kalau tulisannya salah). Sepulang dari sana, beliau menceritakan apa yang dialaminya di sana. Beginilah ceritanya...
****

Tadi Bapak mau cari lem apoksi, terus bilang sama mas-nya.., "Mas, ada lem apoksi?".
Si mas-nya kebingungan dan langsung nanya ke engkoh-nya. Si engkohnya geleng-geleng. Mas-nya balik dan bilang ke bapak, "Gak ada, Pak"..
Padahal, waktu itu bapak lihat tuh di rak atas, ada lem apoksi.. Ya udah bapak bilang, "Oooh, gak ada ya mas? Hm, yaudah deh saya ambil lem yang itu aja (sambil nunjuk ke arah lem yang dimaksud)."
Si mas langsung ngambil, dan bilang, "Oooh, 'dexton'"..
Haha, Dexton itu nama merk lemnya, dan padahal jelas di bawah tulisan Dexton itu ada tulisan lem apoksi..
...
(Bapak saya diam sejenak, sambil tersenyum penuh arti).
Itu dia.. kenapa kita memang harus menyampaikan sesuatu sesuai dengan bahasa yang dimengerti sama lawan bicara kita. Karena.. kalau kita memaksakan dengan bahasa atau frame pikiran kita, bakal sulit diterimanya...

****
:)
Hikmah di atas bukan hanya berlaku dalam transaksi jual beli tentunya. Dalam setiap hal, termasuk mengajarkan seseorang atau menyampaikan suatu pesan kebaikan pada orang lain pun begitu. Akan lebih mudah menyampaikan pesan kebaikan tersebut bila kita menggunakan bahasa yang biasa mereka pakai.
Contoh praktisnya adalah, bila kita ingin menyampaikan materi farmasi atau penyuluhan kesehatan (misalkan)  yang punya banyak istilah asing kepada masyarakat awam, tentunya bukan istilah asing tersebut yang kita sampaikan. Seperti halnya istilah hipoksia.. Tak mungkin kita sampaikan, "Ya bapak,ibu, jadi kalau bapak ibu kurang makan makanan X, nanti darah bapak Ibu hipoksia looh.." Waah bisa jadi bapak ibu peserta penyuluhannya kebingungan, ngantuk, terus ngabur.. Tentu bahasanya bisa kita sesuaikan menjadi, "Ya bapak,ibu, jadi kalau bapak ibu kurang makan makanan X, nanti darah bapak Ibu kekurangan oksigen looh..". Begitu contohnya.. Tentu sahabat2 tahu sendiri istilah istilah asing di bidang sahabat masing-masing yang perlu disesuaikan dengan bahasa penerimanya.
Begitu pun dengan istilah Agama yang tidak semua orang paham.

Hehe, ternyata sahabat, dari kejadian kecil yang terjadi di kehidupan sekitar kita, ada banyaak sekali pembelajaran hidup yang bisa kita dapatkan, yang gak kita dapatkan di sekolah formal.

Sip, sip, semoga bermanfaat! Semoga kita bisa jadi penyampai pesan kebaikan yang cerdas dan adaptif dengan si penerima pesan kita :)
Wassalaamu'alaykum.

Salah Belajar, Batu Loncatan untuk Sang Pembelajar :)

"Ketika ujian tiba, saat kita sudah membekali otak kita dengan bahan ujian, tiba-tiba saat kertas dibuka, DUAAAR..!  Soal yang keluar sama sekali bukan bahan yang kita pelajari. Ffuuh, gimana ini??"

Sahabat, pernahkah mengalami kejadian seperti kisah singkat di atas? Hehe, ternyata ada loh. Sebut saja si X. Nah, si X ini baru saja mengalami itu minggu kemarin.
Hari itu, diadakan kuis salah satu mata kuliah di jurusan X. Entah memang X dan teman-teman yang salah tangkap informasi dari Ibu Dosen, atau memang Ibu Dosen yang sengaja ingin memberi 'surprise' pada mereka dengan memilihkan sendiri submateri apa yang akan diujikan.

Jadi, yang mereka tahu itu hari ini akan ada kuis. Ya, kuis, dengan maksud mempersiapkan kita untuk UTS yang akan diadakan dua minggu lagi. Lalu bahan kuisnya darimana saja? Tentunya, dari bahan-bahan kuliah sejak awal hingga pertemuan terakhir sebelum kuis, bukan? Itulah yang mereka-atau mungkin X saja...?- tangkap. Otomatis, mereka-kalau ini memang benar, mereka semua, bukan si X saja-belajar materi kuis dari bahan kuliah pertama sampai pertemuan terakhir. Wah, sudah pasti bahan yang mereka pelajari banyak sekali. Mulai dari teori/hafalan, hitungan, dan lain sebagainya.

Namun, begitu soal dibagikan, ternyata yang keluar hanya satu soal, dan itu berasal dari satu sub mata kuliah saja. Dan yang lebih parahnya, soal yang keluar cuma satu soal dan itu adalah soal hitungan!!, ada sih di akhirnya, satu soal teori yang ditambahkan dan masih berhubungan dengan soal hitungan yang diberikan.

Jdeeer! Semua kaget! Ini kan materi-materi akhir, dan materi-materi yang dibahas di awal bahkan sama sekali gak keluar. Teori-teori yang lain pun banyak yang gak keluar. Dan yang lebih parahnya, X belum sampai belajar hingga soal hitungan ini :'( Hiks. #nahlo #salahsendiri.
Yang pasti saat waktu pengerjaan kuis dimulai, X tidak langsung mengerjakannya, melainkan tertawa dalam hati sambil mengomentari, "Ya ampuun, aku gak tahu apa-apa tentang iniii-yang soal hitungan-. gimana mau ngerjainnyaa?". Kalau teori Alhamdulillaah, X cukup tahu dan sudah mempelajari, walaupun mungkin memang belum mendalami. Walhasil, X sempat diam dulu di awal, menggoyang-goyangkan pensil sambil menatap kertas soal dalam diam. Dalam hati, X beristighfar menyesali ketidaksiapan X di kuis kali ini....

Terus X ngerjain gak?
Ya tentu saja X mengerjakannya, semampunya. Hehe.

Terus, adakah hikmah  di balik semua kisah ini?
Tentu ada :). Let's check it out.
Inilah yang kemudian X coba renungkan, sebelum akhirnya X bisa mengerjakan soal kuis dengan hati yang lega.

"1. Ini memang salahku. Salahku tidak mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, hingga ada materi (soal hitungan) tadi yang belum sempat aku pelajari. Padahal sebenarnya itu termasik materi penting dalam kuliah ini. Oke, ini salahku pokoknya. Harus diperbaiki. Mungkin ini teguran dari Allah.
2. Mungkin ada faktor X lain yang menyebabkan soal yang keluar dalam kuis adalah bukan soal yang sudah aku pelajari :) Istighfar."

Oke, mungkin itu masuk ke instropeksi. Lalu adakah hikmah lainnya?
Tentu, ada dongs.

"3. Jika memang kejadiannya seperti ini, yaitu aku salah mempelajari materi yang kurang tepat dengan soal ujian-selain memang kesalahan pribadi-akankah ini menjadi suatu hal yang sia2 belaka? sia2 dan gak guna? Ah, Tidak! Aku yakin, apa yang sudahku pelajari kemarin, walaupun ternyata tidak keluar di kuis ini, aku yakiiin, ilmu tersebut pasti akan berguna. Entah kapan. Entah saat momen apa. Yang pasti, satu yang insya Allah pasti adalah, di saat UTS minggu depan nanti, ilmu itu pasti terpakai. Hm, karena di UTS nanti soalnya insya Allah bakal mencakup materi yang lebih luas daripada kuis ini."

Naaah, dari situ X bersyukur, Alhamdulillaah, mungkin ini dapat menjadi salah satu persiapan untuk menghadapi UTS nanti. Ya, persiapan bahwa X sudah mempelajari materi-materi awal tersebut, yang nantinya bisa meringankan X ketika belajar kembali untuk menghadapi UTS yang sebenarnya. Jadi X tidak perlu belajar lebih berat sebelum UTS, karena sudah dicicil lebih dulu, hehe.

Setelah merenungkan hal-hal tersebut, X bersyukur dan menjadi lebih lega. Akhirnya, X pun bisa tersenyum kembali dan mulai mengerjakan kuis ini sebisa yang X bisa. Bukan berarti X menghiraukan kesalahannya dalam UTS ini. Tentu kesalahan tersebut menjadi instropeksi buat X ke depannya, tapi bukan berarti kesalahan tersebut lantas membuat X drop dan saking marahnya sama diri sendiri malah memutuskan untuk menangis dan tidak mengerjakan kuis tersebut. Lebih parahnya kalau sampai penyesalan itu malah menutup pikiran X untuk bersyukur atas pesan hikmah yang terkandung di balik kejadian ini :).

Apapun hasilnya, insya Allah, ada nilai pembelajaran yang sangat berharga buat X, dan kita semua yang membaca kisah ini. Yaitu instropeksi diri, agar lain kali apapun jenis ujian itu, kita harus mempersiapkan diri dengan baik, karena kita tak pernah tahu soal apa yang akan dikeluarkan oleh sang dosen dalam ujian2nya.
:)
Begitupun halnya dengan ujian kehidupan dari Sang Maha Penyayang, Sang Pencipta kita. Kita tak tahu kan, ujian apa yang akan Allah berikan pada kita dalam hidup ini? Oleh karena itu, sudah seharusnya kita terus menempa diri kita dan menyiapkan diri kita agar ketika ujian itu datang mehnyapa, kita kuat dan siap menghadapinya. Dengan bekal itu, mudaah-mudahan kita bisa LULUS dari ujian itu dan menjadi manusia yang kualitas imannya selalu meningkat, Aamiin.

Sip, mungkin segini dulu pesan hikmah yang ingin saya share ke sahabat-sahabat di kesempatan kali ini. Semoga kita semua bisa terus menjadi pribadi pembelajar yang tak kenal lelah untuk menemukan hikmah-hikmah yang tersebar di sekitar kita.

Percayalah, di setiap kejadian yang terjadi di sekeliling kita, pasti ada hikmahnya, pasti ada hikmahnya. Pasti ada maksud tertentu dari-Nya, untuk menjadikan kita makhluk yang lebih baik lagi. Insya Allah.

Yang benar dari Allah, yang salah dari saya. Wallahu a'lam.
Wassalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh :)

Selasa, 08 Oktober 2013

Bukan "Yakin" Biasa

Yakin??'
Apa sih yakin itu? Kalau kata KBBI online (kbbi.web.id) yakin itu "percaya (tahu, mengerti) sungguh-sungguh; (merasa) pasti (tentu, tidak salah lagi)". Percaya terhadap apa? Nah, dalam tulisan ini, saya akan coba sharing tentang yakin terhadap mimpi-mimpi kita.


Yakin. Ya, kita harus yakin bahwa mimpimu dapat tercapai, atas izin-Nya. Yakin bahwa Ia akan memudahkan kita dalam menggapai mimpi-mimpi kita. Kenapa harus yakin? Ya, karena ia Maha Memudahkan. Karena sesungguhnya Allah telah menitipkan potensi-potensi terbaik dalam diri kita untuk dimanfaatkan agar mimpi-mimpi tersebut dapat tercapai.

Kata orang ketika kita punya mimpi dan kita yakin, maka saat itulah sesungguhnya kita telah mendapatkannya, kita telah mewujudkannya. Apakah benar seperti itu?

Tentu tidak akan se-instan itu juga. Kita tulis mimpi kita, lalu kita yakini, kemudian kita diam saja. Lantas apakah mimpi itu akan tercapai, sahabat? Saya rasa tidak...

Tentu setelah kita yakini mimpi kita tersebut, terus berdoa tanpa henti, dan  yakin bahwa Allah akan memudahkan kita menggapainya, selanjutnya adalah tunjukkan USAHA MAKSIMAL kita sampai Allah benar2 menyatakan bahwa kita LAYAK menggapai mimpi itu. Ingat, di terjemahan KBBI tadi, ada pengertian "sungguh-sungguh", bukan? Jadi, jelas Yakin, bukan hanya sekedar percaya.

tunjukkan USAHA MAKSIMAL?
Ya, tunjukkanlah kepada-Nya usaha terbaikmu, usaha maksimalmu. Kalau kata master trainer MudaMulia, @kangrendy (Rendy Saputra): "caper sama Allah!!". Cari perhatian Allah, tunjukkan bahwa, "Ya Allah, lihat, ini aku udah usaha sampe sebegininya.. Udah melakukan X, Y, Z, konsisten 7 hari berturut-turut.. Ridhoi ya Allah, ridhoi aku untuk menggapai mimpiku.."...

Lantas bila mimpi itu tidak tercapai juga? Mungkin menurut-Nya, usaha kita masih kurang, atau kita belum memantaskan diri terhadap mimpi kita tersebut.

Sahabat, saya di sini bukan orang sempurna yang sudah benar2 selalu menunjukkan usaha terbaik saya di mata-Nya. Saya di sini hanyalah seorang manusia biasa yang ingin teru belajar, belajar dan berusaha memantaskan diri agar Allah ridho mewujudkan mimpi saya. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya dan bagi teman-teman semua.
#yukbergerak! Mari kita semangat dan tunjukkan usaha terbaik kita di mata-Nya! Tunjukkan bahwa kita punya usaha lebiih di banding kawan-kawan kita yang lain sehingga Allah pun menilai bahwa kita sudah pantas mendapatkannya. Lalu setelah mendapatkannya? Jangan lupa bersyukur, kawan :) Bersyukur dengan hati, ucapan, dan perbuatan. Bersyukur secara aktif, bukan pasif. Bersyukur dengan terus meningkatkan kapasitas diri kita dengan memanfaatkan potensi yang telah Ia berikan.

Semoga kita selalu termasuk orang-orang yang tak kenal lelah berjuang untuk menggapai ridho-Nya, lewat pencapaian mimpi2 kita!
Selamat berjuang memakmurkan bumi, sahabat ;) we have been given His trust to manage this world!

Wallahu a'lam.
Wassalaamu'alaykum.

Senin, 23 September 2013

Tentang bocah putih biru dan angkot abu-abu

Assalaamu'alaykum sahabat :)
Malam ini, izinkan saya berbagi kisah yang sempat memenuhi pikiran saya.

Sahabat, percayakah kamu bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah rencana-Nya? Skenario-Nya? Percayakah bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan? Dan semua yang terjadi itu pasti memiliki pesan atau hikmah atau sinyal dari-Nya?

Jika ya, maukah kau membantuku untuk menemukan salah satu pesan atau sinyal tersebut? :)

***
Kisah ini dimulai saat aku pulang selepas mengajar privat seorang siswa kelas 6 SD di daerah M. Ramdhan (dekat PT. INTI Bandung). Hari itu sekitar jam setengah 6 sore. Aku bergegas pulang menggunakan angkutan umum jurusan cijerah-ciwastra yang berwarna abu-abu, bergaris putih dan hijau.
Begitu masuk, berbagai jenis orang ada di sana. Dari siswa SMP, SMA, sampai yang berbaju bebas, yang aku pun tak tahu apakah mereka kerja atau sekedar main. Yang jelas, jam setengah enam umumnya merupakan waktu pulang para karyawan dan anak-anak sekolah.

Salah dua dari penumpang angkutan tersebut adalah dua orang siswa SMP yang sedang asyik makan jajanan mereka (saya lupa apa makanannya) sambil ngobrol seru. Tapi kurasa, siswa tersebut bukan siswa SMP biasa.
Apalagi yang bertas hitam (atau birutua ya?saya lupa) dan bergambar mulut ikan hiu itu. Gaya rambut dan garis wajahnya menampakkan usia yang lebih tua daripada penampakan celana biru yang ia pakai. Gaya bahasa dan isi bicaranya pun demikian. Satu lagi, mohon maaf, bila aku melihatnya, tiba-tiba aku teringat dengan anak-anak punk yang sering nongkrong di pinggir jalan. Waktu itu aku pikir, anak semuda ini, sudah bergaya seperti ini? Wah, pergaulan memang makin gawat.

Sampai di dekat terminal leuwi panjang, aku pun turun untuk mengganti angkot. Meninggalkan seluruh penumpang angkutan dan tentunya dua anak itu.

Beberapa hari kemudian, di waktu yang sama dan selepas momen yang sama, saya kembali menaiki angkot abu-abu itu. Dan apa yang terjadi? Saya bertemu kembali dengan anak itu!
Kali ini ia bersama temannya, tapi aku tak memperhatikan apakah itu teman yang sama dengan yang sebelumnya atau bukan? Yang jelas, lagi-lagi anak itu mengobrol seru sambil memakan jajanan yang ia beli. Tanggapanku tetap sama, hmm.. gawat juga anak semuda ini udah termakan gaya pergaulan yang lebih dewasa, yang kupikir belum lazim untuk anak seusia mereka. Aku jadi sedikit sedih. Tapi mudah-mudahan rokok atau yang lainnya yang lebih buruk belum menyentuh anak-anak ini.

Jadwal lesku datang lagi. Dan lagi-lagi ketika aku pulang, aku bertemu dengannya, di angkutan yang sama. Kal ini ia sendiri. Ia terlihat begitu santai dan tanpa beban. Pada saat inilah, aku mulai berpikir. Aku sudah tiga kali bertemu dengannya, di angkutan yang sama, di kisaran waktu yang sama. Aku yakin.. pasti ada sesuatu di balik skenario ini. Tak mungkin ini semua hanya kebetulan! Tapi, apa sesuatu itu? Hikmah apa yang ingin Allah sampaikan kepadaku? SINYAL apa yang ingin Allah berikan kepadaku? Apakah mungkin, di kemudian hari, anak ini akan menjadi seseorang yang penting untukku? ATau mungkin, anak ini harus kuajak untuk menjadi adik binaan ku dan teman-temanku di KARISMA ITB (Keluarga Remaja Islam Salman ITB), yang memang bergerak di bidang pembinaan remaja? Atau aku sendiri yang diminta Allah untuk memberikan sesuatu buat hidupnya, memberikan sesuatu manfaat atau suatu yang positif, begitu? Hmm, aku tak tahu, Itu semua masih rahasia-Nya. Tapi satu hal yang aku YAKINI saat itu adalah: YA, ada sesuatu. Ada suatu pesan atau SINYAL dari-Nya. Sinyal tentang 'hubungan'-ku dengan si anak ini. Karena sekali lagi, aku yakin ini semua sudah ia rancang sedemikian rupa. Pertemuan kami yang hingga tiga kali, di tempat dan kisaran waktu yang sama, saya yakin, sama sekali bukan merupakan kebetulan. Semua pasti sudah dirancang-Nya!

Apalagi ada tambahan peristiwa yang begitu mengagetkanku sore itu!
Saat angkot sudah berjalan beberapa menit, tiba-tiba masuk seorang pemuda jalanan. Karena sedikit penuh, ia langsung duduk di pintu. Pemuda itu sangat mengagetkanku, karena penampilannya - mohon maaf - seperti orang yang -ah entah apa namanya - sedang sakau atau habis make atau, fly mungkin lebih tepat.... serius, dan di detik ini, saya ketakutan. Baru pertama kali ini saya melihat sendiri penampakan seperti itu.
Siswa SMP itu pun demikian. Ia memang tak menunjukkan mimik ketakuan yang besar, tapi jelas terlihat dari gesturenya bahwa ia kaget dan heran dengan kehadiran lelaki itu. sekali-kali ia melirik heran ke arah lelaki yang tiba-tiba mengeram sendiri, tiba-tiba lemas sendiri di pintu angkot sambil bersenderan. Tapi beberapa menit kemudian, ia sudah tak ambil pusing dengan lelaki itu. Ia duduk seperti biasa, selayaknya tak ada kejadian apa-apa. Tinggal aku yang masih ketakutan, bagaimana nanti ketika aku turun, jangan2 dia mengejarku (serem-_-).

Peristiwa ini jelas makin membuatku berpikir. Adakah pemuda tadi ada hubungannya dengan pertemuanku dengan anak SMP ini? Kalau ada, huuff.. apakah hubungannya?

Lalu, apa pesan atau sinyal itu?

Hari ini, aku kembali menjalankan rutinitas jadwal les-ku. Hingga sore tiba dan aku harus bergegas pulang. Saat itu, angkutan umum berwarna abu-abu sedang sepi. Sedikit sekali yang lewat, dan sekalinya lewat, pasti penuh :(. Namun, Alhamdulillaah, aku berhasil mendapatkan satu angkutan yang - walau sudah penuh - aku diminta supir untuk duduk di depan saja. Namun sebelum aku naik dan membuka pintu depan. Pandanganku kembali tertuju pada seorang siswa putih biru yang duduk di ujung kursi, pas di samping pintu masuk angkot bagian belakang. Ya, anak itu lagi. Oh, Allah, sinyal apakah ini??
Tadi, pandangan kami sempat beradu. Dan dari pandangannya, bisa kutangkap sebuah kalimat yang menyatakan bahwa ia sudah mengenaliku. Ia tahu bahwa aku adalah si perempuan yang beberapa kali satu angkot dengannya, di waktu yang sama. Apalagi hari ini, aku menggunakan pakaian yang sama dengan yang kupakai saat bertemu dengannya di lain hari.
Aku naik ke depan, dengan pikiran tetap terfokus pada rangkaian skenario ini. Sambil terus memikirkan kira-kira apa maksud Allah membuat cerita seperti ini?
Ketika orang di sebelahku turun, otomatis aku yang memang kurang suka duduk di kursi depan, langsung turun dan pindah ke kursi belakang. Ketika aku masuk, jreeeeng, tepat di seberangku, ada seorang perempuan muda yang sedang memuntahkan sebagian isi perutnya ke dalam kresek hitam. Mohon maaf sekali lagi, ia mengingatkanku dengan pemuda yang seperti sakau tempo hari itu. Walaupun mungkin yang ini bukan sakau.
Perempuan ini menundukkan kepalanya terus menerus, tak pernah ia mengangkatnya. Kaos kakinya bolong di bagian jempol, dan ah.. aku tak mau menerka-nerka lagi. Aku takut meneruskan pikiranku, dan aku pun tak mau berpikir yang bukan-bukan tentang mengapa perempuan muda ini berlaku demikian di depan umum.
Pandanganku beralih ke siswa SMP itu. Ia tetap cuek seperti biasa, walau - aku tak tahu juga sih ya - mungkin ia sempat terheran juga dengan tingkah laku perempuan muda ini saat pertama kali masuk ke angkot. Siswa itu tetap anteng sabil memakan kwetiaw jajanannya.

Ketika aku turun dan hendak mengganti angkot, lagi-lagi aku berpikir. Ya Allah, ini keempat kalinya aku bertemu dengan anak itu, di tempat yang sama dan kisaran waktu yang sama. Dari ratusan pelajar di kota Bandung, yang mungkin sekolah di tempat yang sama dengannya dan pulang di waktu yang sama, dengan jurusan angkutan yang sama, aku yakin seharunya mungkin banyak yang akan kutemui sesering ini seperti ia. tapi mengapa cuma ia yang aku temui sampai empat kali, dan dua di antaranya dibarengi dengan peristiwa aneh dan agak menyeramkan - buat saya -.
***

Sampai titik ini, saya ingin bertanya pada sahabat-sahabat semua. Adakah sabat-sahabat yang memiliki pendapat tentang sepotong skenario hidupku ini? Mungkin aku lebay menanggapinya, tapi entahlah, aku tetap yakin bahwa ada suatu pesan dari serangkaian skenario ini, ada sebuah sinyal dari-Nya, yang aku belum tahu apa maksudnya.

So, anyone has an opinion about this?
Jazakumullaah khair.
semoga kita selalu bisa menjadi orang yang lebih peka terhadap semua sinyal-sinyal-Nya, Aamiin YRA.
Wallahu a'lam bish-shawaab.