Untaian kalimat @azahira. Mencoba menggali hikmah di balik tiap-tiap skenario-Nya. Silahkan ambil yang bermanfaat, ingatkan penulis bila ada yang melenceng. Semoga menginspirasi, mari saling berbagi :) *Berusahalah, pasti bisa! In syaa Allah :)
Minggu, 11 Agustus 2013
The Power of Forgiveness – Dulu dan Sekarang
Belajar Bersabar, Belajar Mendengar, Belajar Menyimak :)
Senin, 05 Agustus 2013
Jangan mau investasi buat KESEHATAN!
Assalaamu'alaikum Sahabat! Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan, Aamiin. Tulisan ini dibuat hanya untuk saling mengingatkan antar manusia (berarti saya juga hehe). Mudah-mudahan setelah baca tulisan ini, ada nilai positif yang bisa sahabat2 ambil. Aamiin. Oke. Capcus..
SREEEENG (Bunyi Tirai dibuka-kayak mau nonton layar lebar-)
**********************
[BUKAN TULISAN ILMIAH]
Sahabat, pernah dengar kata SEHAT?
Apa sih artinya?
Hm, kalau kata salah satu dosen patofisiologi (ilmu yang mempelajari tentang kondisi tubuh saat kondisi abnormal alias sakit, mulai dari awal mula penyakit, proses, sampai akibatnya) di kampus saya, SEHAT itu kondisi seimbang antara MIND, BODY, and SOUL. Itu artinya tubuh dalam keadaan normal. Normal itu gimana? ya normal, tidak ada gangguan dalam sistem dan kerjanya. Kalau bagi teman2 kedokteran atau farmasi atau Biologi, bayangan tentang bagaimana keadaan tubuh yang normal itu bisa dipelajari di mata kuliah Anatomi-Fisiologi Manusia (Anfisman). Eits, tapi bukan hanya tubuh saja loh, sesuai tiga kata tadi, maka pikiran dan jiwa kita pun harus dalam keadaan normal.
WIDII, susah dong ya kalau mau dibilang SEHAT?
Jangan-jangan, kita semua di sini masih tergolong kelompok orang sakit lagi? Tubuh sehat tapi hati galau #ups. Hehe. Bisa jadi-bisa jadi.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih ujug-ujug saya ngomongin sehat?
Jadi gini, sahabat-sahabatku, hm.. sebenarnya inspirasi tulisan ini datang setelah saya membaca sebuah buku tentang Menikah!
Loh? Kok?
-_-
Jadi mau ngomongin nikah nih?
BUKAN! BUKAAN! (--> game Indonesia Pintar)
Terus mau ngomongin apa?
Sesuai judul, ngomongin KESEHATAN!
Ya! Buku karya teh Foezi Citra (@fufuelmart) dan suami, kang Canun Kamil (@canunkamil); Romantic Couple, Relationship Trainer, yang saya baca ini berjudul "Menikah Itu Mudah" (coba di-googling kalau yang belum tahu).
Lalu apa hubungannya dengan KESEHATAN?
Oh ada.. Di salah satu bab dalam bukunya, dibahas suatu topik tentang kesehatan. Yang dampaknya itu membuat saya merenung lebih lama tentang kebiasaan saya dulu (makanya pas baca bukunya, saya serasa ditampar hehe), dan kebiasaan beberapa teman-teman saya di kampus, Masjid Salman, dan sekitarnya. (Apalagi mengingat saya adalah seorang mahasiswi di bidang kesehatan! Nah Lo... jadi malu plus 'serasa' nambah beban aja). Emang apa sih yang dibahas? Hmm, tentang investasi untuk hidup SEHAT.
Langsung mulai aja ya. Tapi sebelumnya, sisi SEHAT yang mau saya bahas kali ini insya Allah lebih ke sisi BODY, daripada MIND and SOUL. Yuk kita simak! :)
***
Pernah gak sih sahabat sekalian merasa, betapa gagahnya, betapa kuatnya, betapa sehat dan bugaarnya kita di masa muda?
Ya, seperti sekarang ini! Kita masih muda. Masih segaar bugar. Semua aktifitas kita lahap. Ada yang dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam full of activity. Agendanya?
Pertama ikut aktifitas A dari kampus, aktifitas B dari organisasi Z, aktifitas C dari komunitas Y, aktifitas dari tempat kerja paruh waktu, dan seterusnya dan seterusnya.
Itu pas masih kuliah (biasanya para aktifis ya? tapi yang aktifis akademik juga bisa sih kayak gitu-Laboratory Mode On-hehe). Belum lagi kalau sudah kerja. Waah, bisa lebih jontor-jontoran lagi.
Pokoke, Semangat 45 deh menjalani semua aktifitas itu!
Kerja keras, peluh keringat, tulang yang patah gara2 dibanting (kan istilahnya banting tulang ya? #eh hehe --> maaf #salahfokus), udah jadi hal yang biasa. Sampai perut lapar pun terabaikan. Ya, ini niiih masalah yang biasa banget terjadi di kalangan muda mudi. Apalagi usia-usia mahasiswa, yang katanya masa-masanya kelebihan energi.
Makan pagi/siang/malam sering dilewat gitu aja, bablass.. Kadangkala ada teman yang mengingatkan, dijawabnya, "Hehe, gak apa-apa kok. Udah biasa. Di-rapel juga sering, hehe." (Rapel: dua waktu makan digabung ke satu waktu, misal: makan pagi digabung ke makan siang).
Ini mungkin masih mending karena minimal masih ada asupan, nah lo, kalau yang sama sekali gak ada asupan gimana??
"Gue kuat kok! Nih buktinya sehat-sehat aja!"
Ya iya sih.. Masih kuat, ya, memang masih kuat. Kan masih muda juga!
Dan hal seperti itu terus berlanjut, bahkan beranjak jadi sebuah kebiasaan.
Kita teeruus bekerja keras demi mendapatkan kebutuhan kita, impian kita dan capaian lainnya. Tanpa kenal lelah, bahkan tanpa kenal sehat..
Lalu ketika usia tua sudah mulai menyapa, apa yang kita lakukan?
Biasanya, banyak yang ketika sudah tua, kesehatan mulai menurun. Jreng jreng, penyakit-penyakit kecil mulai datang. Dari batuk-batuk kecil, eeh, kok ternyata batuknya jadi sering, tiap hari muncul.. Atau yang tiba-tiba sering jatuh. Lambat laun, ternyata penyakit-penyakit kecil itu, berkembang menjadi sebuah penyakit yang... mematikan. Haduh, Na'udzubillaahimindzaliik..
Kalau sudah seperti itu, ngapain lagi selanjutnya?
Ya, tentu kita akan berusaha mati-matian untuk menyembuhkannya! Dengan cara apa? Oh, banyak cara dong.. Pergi ke dokter, beli obat sana-sini, konsultasi gizi, atau pengobatan tradisional. Gak sembuh? Cari lagi cara laain! Tapi mahal? Biariiin. Keluarin aja semua uang, pokoke papa harus sembuuh!!! (ini lebay, ceritanya ala sinetron hehe).
Yap! Kita bakal banting tulang ngeluarin semua duit, bahkan tabungan kita untuk mengobati sakit tersebut. Harapannya kita bisa segera sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga dengan tenang.
Hmm, kalau kita pikir-pikir kembali, itu berarti..
di WAKTU MUDA tadi, yang pas semangat-semangatnya kerja+berkarya, sebenarnya kita lagi INVESTASI untuk membiayai SAKIT di masa tua dong??
IYA! Bisa jadi, bisa jadi!
Laah, rugi dong kita?
Rugi banget sih sebenarnya.......
Ya terus gimana?
Nah, maka dari itu, ungkapan, "Mencegah itu lebih baik daripada mengobati" itu bener banget loh, sahabat.
Ketika muda tadi misalkan, mungkin, karena keuangan masih pas-pasan, atau belum punya penghasilan sendiri, itu juga yang menyebabkan kita jadi berhemat super ketat hehehe. Tentunya objek penghematan yang paling oke adalah biaya makan! Gak aneh makanya kalau banyak sekali yang suka rapel waktu makan, atau sama sekali gak makan.
Bahaya gak sih?
Sebenarnya, gak begitu bahaya. Kalau itu tidak menjadi sebuah kebiasaan. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan? Ya bahayaaa..
Seminimal-minimalnya, jika sedang tidak puasa/shaum, makanlah. Makannya gak harus nasi kok. Bisa roti atau buah. Atau cukup telor 3 biji digado hehe. Terus harus tiga kali sehari? Iya.. Biasakan tiga kali sehari. Pagi-siang-malam.
Biayanya? Biaya itu sebenarnya bisa ditekan, bisa diakali. Apalagi yang mahasiswa. Waaah, pasti jagonya ini kalau soal penghematan. Bisa dengan mencari tempat yang memang menawarkan biaya paling murah, atau dengan menu kombinasi yang dapat menekan biaya makan secara drastis (hehe). Atau yang paling enak, yaaa... ikut acara, terus cari gratisan!
di ITB contohnya. Kantin yang paling murah di mana?
Kalau setahu saya, hingga sejauh ini, yang paling murah untuk makanan berat ada di kantin Salman ITB. Kalau kita makan di kantin dalam kampus ITB, makanan berat paling murah 6000 (eh atau 7500 ya?). Itu juga kadang bukan paket lengkap, atau ada yang menunya bubur. Atau nasi kuning yang pake kotak plastik tea, harganya 4000-5000an. Cuma kadangkala itu gak bersih dan ada saja yang (maaf) sudah lewat tanggal baiknya.
Kalau di Salman? Wiih, insya Allah kurang dari 5000 kita udah bisa makan lengkap nasi-lauk-sayur. Gak percaya? Ya harus percaya.
Ini salah satu kombinasi menu yang saya coba, dan harganya di bawah 5000! >> Nasi setengah porsi, tempe goreng/mendoan, sayur (sayur sop, pokoknya jangan sayur yang aneh2 hehe).
Kalau gak kenyang gimana? apalagi yang laki2, biasanya kan ngambil nasinya segunung hehe. Ya itu dia, harus dibiasakan agar nasi segitu cukup. Insya Allah cukup kok, karena sebenarnya tubuh kita itu gak terlalu butuh banyak nasi, kan?? Kalau kebanyakan nasi bisa jadi malah kebanyakan glukosa dan jadi risiko diabetes. Dan hati-hati, akibat lainnya kalau input energi (alias bahan makanan) lebih besar daripada output (energi yang kita keluarkan untuk beraktifitas), ya bisa jadi.. timbunan lemak. Karena energinya gak kepake. Sehat atau gak? Bisa sehat, bisa gak.
Cara lainnya biar tetap sehat, tapi hemat?
Shaum? Bisa jadi kok. Tapi shaumnya kalau bisa memang benar2 diniatkan karena ibadah sunnah ya. jangan hanya karena mentang2 mau hemat uang. dan jangan keseringan juga, sampe setiap harii weekdays gitu..(kecuali bulan Ramadhan hehe). kalo rutin senin-kamis tiap minggu masih oke kok :)
Sekarang coba kita hitung biaya yang kita keluarkan untuk makan dalam seminggu??
Sampaikah puluhan juta, sahabat??
Saya yakin insya Allah gak. kecuali kalau biaya makannya dihitung untuk 20 tahun. Ya mungkin aja lebih dari puluhan juta hehe.
BANDINGkan dengan biaya yang harus kita keluarkan bila hal itu sudah terlanjur menjadi penyakit. Wih, bisa nyampe puluhan juta itu, apalagi kalau sampai harus operasi dan sebagainya.... See? Insya Allah tidak MAHAL, bila diBANDINGkan dengan akibat yang akan kita dapatkan di hari tua. Gak usah hari tua deh, kita gak pernah tahu loh, mungkin aja masih di usia 20an, penyakit bahaya itu sudah datang.
Contoh lainnya..?
Ini mungkin untuk yang sudah kerja dan punya penghasilan tetap.
Seringkali kita masih meremehkan yang namanya "General Check-Up".
Padahal, dengan melakukan General Check-Up, itu merupakan tindakan preventif kita dari penyakit-penyakit bahaya tadi. Preventif itu apa? Tindakan pencegahan! Ya, dengan melakukan General Check-Up, itu berarti kita sudah melakukan salah satu langkah deteksi dini..Deteksi gejala/tanda-tanda penyakit sejak awal, sebelum ia membesaar, membesaar, dan berrbahaya. Kalau udah tahu sejak si penyakit masih kecil manfaatnya apa? Ya tentu saja kita bisa menjaga si penyakit itu supaya gak makin membesar. Asik aja atau asik banget??
Insya Allah, asik banget!
Sekarang, biaya check-up berapa?
Insya Allah kisarannya ratusan ribu sampai juta (tapi tidak sampai belasan atau puluhan juta).
Mahal? Mungkiin..
Tapi, jika kita BANDINGkan dengan biaya pengobatan penyakit yang sudah membesar??
Biayanya bisa sampai puluhan juta.
Mana yang murah, General Check-Up di masa muda, atau menunggu sampai sakit membesar dan membayar puluhan juta?
you DECIDE!
:)
So, mulai sekarang, gak ada salahnya kita coba LATIH dan BIASAkan untuk mau INVEST hidup SEHAT. Bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan kita kok. Gak perlu yang maksa-maksa juga. Masing-masing dari kita pasti tahu ukuran yang terbaik buat kita, bisa dihitung2 dan dipertimbangkan sendiri.
ya sudah yuk, kita mulai..
Mulai dari hal terkecil.
Mulai dari diri sendiri, gak usah nunggu orang lain ngerjain..
Mulai saat ini juga.
Mulai dengan BASMALAH :)
Cara-cara di atas tadi belum cukup? Tenang, insya Allah, kalau niatnya memang baik, kalau niatnya untuk bersyukur atas nikmat tubuh dan kesehatan ini, akan ada banyak jalan untuk memperjuangkannya.
Seimbangkan juga diri kita dengan aktifitas olah pikir dan olah ruhiyah (MIND and SOUL). Biarkan otak kita dipenuhi pikiran yang positif dan membangun, hindari berpikir negatif. Jadwalkan juga amalan yaumiyah secara rutin, agar diri ini tak pernah lepas dari-Nya.
Demi masa depan yang lebih SEHAT, CERIA, KUAT, so pasti kuat berkarya dan beramal juga, Aamiin...
Siap?
Siiiiap INSYA ALLAH!
:)
Wallahu a'lam bish-showab.
Wassalaamu'alaikum.
*Aliya Nur Zahira* @azahira
Senin, 24 Juni 2013
Two-Way Learning: Mau dapat 50% atau 90%?? :D
Hehe. Sedikit berbagi lagi.. Hm, saya lagi kepikiran tentang metode belajar. Alhamdulillaah, kemarin2 sempat dapat kesempatan belajar dari trainer bidang pendidikan berbasis International NLP (Neuro-Linguistic Programming), kang Surya Kresnanda :D.
Mungkin kita udah sering denger ya.. Katanya belajar itu lebih enak kalo dua arah. Kalo satu arah malah bikin ngantuk, bosen, walhasil gak ngerti.
Hehe, insya Allah itu gak salah. Nyatanya, berdasarkan hasil penelitian sekitar tahun 1983 (siapa penelitinya agak lupa, ada Anderson-nya aja.. Insya Allah abis saya cek lagi, nanti saya post Di comment ya hehe), dengan one-way learning, paaaling MAKSIMAL, kita dapat pembelajaran hanya 50%nya SAJA. Jadi pemahaman kita ya hanya separuhnya juga.
Tapii kalau pake two-way learning, MINIMAL kita dapat pembelajaran 70%. Maksimal 90%. Nah dengan apa persentase itu didapat?
70% pembelajaran manusia didapat dari "DO" (melakukan), daan 90%nya dari "SAY&DO" (katakan Dan lakukan). Maka ketika kita berani belajar dengan mempraktekkannya, tentu kita akan mendapatkan pembelajaran+pemahaman yg lebih baik daripada mereka yang hanya duduk mendengarkan apalagi hanya membaca teorinya. Lalu, jika kita gabungkan antara "katakan Dan lakukan" (bisa didefinisikan dengan mengajarkannya kembali; atau kalau saat sedang belajar, biasanya ketika guru/trainer sedang memberi materi lalu beliau tiba2 meminta kita untuk mengulang perkataannya, Di situ kita juga bisa dapat "SAY"-nya), insya Allah kita akan dapat 90%.
Subhanallaah, Di Islam sendiri, ilmu yang diamalkan pun sangat diutamakan ya.. Artinya selain memang ketika kita mengajarkan orang lain, orang tersebut akan mendapatkan manfaatnya, Allaah Sudah tahu bahwa kita pun akan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari itu (selain pahala yang tak putus tentunya). Hal ini juga yang mungkin sering membuat kita merasa bahwa semakin kita sering mengajarkan ilmu kita pada orang lain, semakin mantap pula ilmu yang kita miliki tersebut, malah sama sekali tidak mengurangi ilmu kita tersebut :).
Hehe, so, mulai sekarang biar semua pelajaran yang kita dapatkan (baik pelajaran akademik Di sekolah, ataupun pelajaran hikmah kehidupan, hehe) lebih efektif, Mari marrri maksimalkan two-way learning! Katakan Dan Lakukan!!!
Wallahu a'lam.
Wassalaamu'alaikum.
Aliya Nur Zahira.
The Most Effective Learning
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Udah lama sebenarnya pengen ngepost tentang ini. Saya tiba2 keinget ttg satu hal tentang pembelajaran waktu ngeberesin buku2 pelajaran SMA.
Belajar dari Kesalahan? Pernahkah kita melakukannya. Hmm, kalau salah insya Allah semua juga pernah ya hehehe.. Nah terus pernah gak kita menyadari satu hal dari kesalahan tsb???
Selama ini, kadang kita sering mengeluh.. Kenapa sih susah banget belajar A, B, C atau D.. ? Udah belajar sih, tapi sebulan kemudian udah lupaa -_- atau ngeluh karena kok kita kyknya lupa terus ya Mau ngelakuin sesuatu? Misal, setiap kita Mau cuci piring kita lupaa terus ngebersihin sisa ampas/sampah2 bekas makanan yang nyangkut di saringan. Tapi begitu kita dapet kejadian kayak tiba2 suatu pagi pas kita bangun, seorang bapak kecoa lagi duduk anteng di sana. Dan apa yang akan kita lakukan?
"Aaaaa!!"
Mungkin itu reaksi yg kita keluarkan hhe. Terus sedetik kemudian, kita langsung berubah jadi manusia terajin. Hhe. Langsung ngusir kecoa, terus buru2 bersihin si tumpukan ampas sampeee bener2 bersih, kalau bisa kayak baru lagi hehe.
Abis itu?
Naaah. Ini dia nih.. Biasanya kalau kita abis kena pengalaman buruk kyk gini, yg terjadinya gara2 kesalahan kita, memori kita bakal mengingatnya lebih kuaaat dari pada kejadian yg normal2 aja.. That's why, setelah itu kita gak lagi males ngebersihin ampas cuci piring langsung setelah cuci piring. Karena begitu nunda2, langsung deh keinget bapak kecoa tadi hehe.
Saya pun sering kejadian hhe. Contohnya mulai dari kegiatan akademik saya akan lebih mudah mengingat pelajaran yang waktu ujian (atau pas ngapalinnya) salah. Begitu juga Hal lainnya. Kayak pas kesasar, salah lewat jalan, otomatis setelah itu kalau ketemu jalan itu lagi sy bakal inget banget Dan gak Mau lagi lewat jalan itu karena buntu misalkan.
Kira2 dari sini apa hikmah yg bisa diambil? :) hehe. Tentunya, insya Allah bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Misalkan yg insiden bapak kecoa tadi. Hikmahnya adalah setelah kejadian itu kita jadi orang yang lebih memperhatikan kebersihan rumah, karena gak Mau lagi kejadian itu terjadi.
Hikmah lainnya, bahwa sebenarnya kita tak perlu takut salaaah! Yeah! Hhe. Karena ketika kita salah, justru pada saat itulah sebenarnya kita sedang belajar sesuatu, belajar untuk jadi lebih baik. Kayak Di soal akademik tadi. Ketika kita memberanikan diri maju ke depan, terus jawabannya salah, jgn khawatir, guru/teman2 kita akan membenarkan jawaban kita. Di saat itu, kita looh yg dapat pembelajaran paling besar hehe. Termasuk ketika salah atau merasa gagal melakukan public speaking Di depan umum. Justru pada saat kita merasa gagal itulah, masukan dari orang lain (bahkan dari yang lebih ahli) akan banyak berdatangan. Dan hasilnya? Kalau kita mengikuti saran2 yang baik, insya Allah kemampuan Public speaking kita pun akan semakin baik.
So, jangan takut bertindak (as long as it is a good action!). Jangan takut salah! Because you will be the luckiest person on that time, insya Allah! :D
Selamat beraktifitas, selamat berkarya!
Wallahu'alam.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
Aliya Nur Zahira.