Selasa, 08 Oktober 2013

Bukan "Yakin" Biasa

Yakin??'
Apa sih yakin itu? Kalau kata KBBI online (kbbi.web.id) yakin itu "percaya (tahu, mengerti) sungguh-sungguh; (merasa) pasti (tentu, tidak salah lagi)". Percaya terhadap apa? Nah, dalam tulisan ini, saya akan coba sharing tentang yakin terhadap mimpi-mimpi kita.


Yakin. Ya, kita harus yakin bahwa mimpimu dapat tercapai, atas izin-Nya. Yakin bahwa Ia akan memudahkan kita dalam menggapai mimpi-mimpi kita. Kenapa harus yakin? Ya, karena ia Maha Memudahkan. Karena sesungguhnya Allah telah menitipkan potensi-potensi terbaik dalam diri kita untuk dimanfaatkan agar mimpi-mimpi tersebut dapat tercapai.

Kata orang ketika kita punya mimpi dan kita yakin, maka saat itulah sesungguhnya kita telah mendapatkannya, kita telah mewujudkannya. Apakah benar seperti itu?

Tentu tidak akan se-instan itu juga. Kita tulis mimpi kita, lalu kita yakini, kemudian kita diam saja. Lantas apakah mimpi itu akan tercapai, sahabat? Saya rasa tidak...

Tentu setelah kita yakini mimpi kita tersebut, terus berdoa tanpa henti, dan  yakin bahwa Allah akan memudahkan kita menggapainya, selanjutnya adalah tunjukkan USAHA MAKSIMAL kita sampai Allah benar2 menyatakan bahwa kita LAYAK menggapai mimpi itu. Ingat, di terjemahan KBBI tadi, ada pengertian "sungguh-sungguh", bukan? Jadi, jelas Yakin, bukan hanya sekedar percaya.

tunjukkan USAHA MAKSIMAL?
Ya, tunjukkanlah kepada-Nya usaha terbaikmu, usaha maksimalmu. Kalau kata master trainer MudaMulia, @kangrendy (Rendy Saputra): "caper sama Allah!!". Cari perhatian Allah, tunjukkan bahwa, "Ya Allah, lihat, ini aku udah usaha sampe sebegininya.. Udah melakukan X, Y, Z, konsisten 7 hari berturut-turut.. Ridhoi ya Allah, ridhoi aku untuk menggapai mimpiku.."...

Lantas bila mimpi itu tidak tercapai juga? Mungkin menurut-Nya, usaha kita masih kurang, atau kita belum memantaskan diri terhadap mimpi kita tersebut.

Sahabat, saya di sini bukan orang sempurna yang sudah benar2 selalu menunjukkan usaha terbaik saya di mata-Nya. Saya di sini hanyalah seorang manusia biasa yang ingin teru belajar, belajar dan berusaha memantaskan diri agar Allah ridho mewujudkan mimpi saya. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya dan bagi teman-teman semua.
#yukbergerak! Mari kita semangat dan tunjukkan usaha terbaik kita di mata-Nya! Tunjukkan bahwa kita punya usaha lebiih di banding kawan-kawan kita yang lain sehingga Allah pun menilai bahwa kita sudah pantas mendapatkannya. Lalu setelah mendapatkannya? Jangan lupa bersyukur, kawan :) Bersyukur dengan hati, ucapan, dan perbuatan. Bersyukur secara aktif, bukan pasif. Bersyukur dengan terus meningkatkan kapasitas diri kita dengan memanfaatkan potensi yang telah Ia berikan.

Semoga kita selalu termasuk orang-orang yang tak kenal lelah berjuang untuk menggapai ridho-Nya, lewat pencapaian mimpi2 kita!
Selamat berjuang memakmurkan bumi, sahabat ;) we have been given His trust to manage this world!

Wallahu a'lam.
Wassalaamu'alaykum.

Senin, 23 September 2013

Tentang bocah putih biru dan angkot abu-abu

Assalaamu'alaykum sahabat :)
Malam ini, izinkan saya berbagi kisah yang sempat memenuhi pikiran saya.

Sahabat, percayakah kamu bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah rencana-Nya? Skenario-Nya? Percayakah bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan? Dan semua yang terjadi itu pasti memiliki pesan atau hikmah atau sinyal dari-Nya?

Jika ya, maukah kau membantuku untuk menemukan salah satu pesan atau sinyal tersebut? :)

***
Kisah ini dimulai saat aku pulang selepas mengajar privat seorang siswa kelas 6 SD di daerah M. Ramdhan (dekat PT. INTI Bandung). Hari itu sekitar jam setengah 6 sore. Aku bergegas pulang menggunakan angkutan umum jurusan cijerah-ciwastra yang berwarna abu-abu, bergaris putih dan hijau.
Begitu masuk, berbagai jenis orang ada di sana. Dari siswa SMP, SMA, sampai yang berbaju bebas, yang aku pun tak tahu apakah mereka kerja atau sekedar main. Yang jelas, jam setengah enam umumnya merupakan waktu pulang para karyawan dan anak-anak sekolah.

Salah dua dari penumpang angkutan tersebut adalah dua orang siswa SMP yang sedang asyik makan jajanan mereka (saya lupa apa makanannya) sambil ngobrol seru. Tapi kurasa, siswa tersebut bukan siswa SMP biasa.
Apalagi yang bertas hitam (atau birutua ya?saya lupa) dan bergambar mulut ikan hiu itu. Gaya rambut dan garis wajahnya menampakkan usia yang lebih tua daripada penampakan celana biru yang ia pakai. Gaya bahasa dan isi bicaranya pun demikian. Satu lagi, mohon maaf, bila aku melihatnya, tiba-tiba aku teringat dengan anak-anak punk yang sering nongkrong di pinggir jalan. Waktu itu aku pikir, anak semuda ini, sudah bergaya seperti ini? Wah, pergaulan memang makin gawat.

Sampai di dekat terminal leuwi panjang, aku pun turun untuk mengganti angkot. Meninggalkan seluruh penumpang angkutan dan tentunya dua anak itu.

Beberapa hari kemudian, di waktu yang sama dan selepas momen yang sama, saya kembali menaiki angkot abu-abu itu. Dan apa yang terjadi? Saya bertemu kembali dengan anak itu!
Kali ini ia bersama temannya, tapi aku tak memperhatikan apakah itu teman yang sama dengan yang sebelumnya atau bukan? Yang jelas, lagi-lagi anak itu mengobrol seru sambil memakan jajanan yang ia beli. Tanggapanku tetap sama, hmm.. gawat juga anak semuda ini udah termakan gaya pergaulan yang lebih dewasa, yang kupikir belum lazim untuk anak seusia mereka. Aku jadi sedikit sedih. Tapi mudah-mudahan rokok atau yang lainnya yang lebih buruk belum menyentuh anak-anak ini.

Jadwal lesku datang lagi. Dan lagi-lagi ketika aku pulang, aku bertemu dengannya, di angkutan yang sama. Kal ini ia sendiri. Ia terlihat begitu santai dan tanpa beban. Pada saat inilah, aku mulai berpikir. Aku sudah tiga kali bertemu dengannya, di angkutan yang sama, di kisaran waktu yang sama. Aku yakin.. pasti ada sesuatu di balik skenario ini. Tak mungkin ini semua hanya kebetulan! Tapi, apa sesuatu itu? Hikmah apa yang ingin Allah sampaikan kepadaku? SINYAL apa yang ingin Allah berikan kepadaku? Apakah mungkin, di kemudian hari, anak ini akan menjadi seseorang yang penting untukku? ATau mungkin, anak ini harus kuajak untuk menjadi adik binaan ku dan teman-temanku di KARISMA ITB (Keluarga Remaja Islam Salman ITB), yang memang bergerak di bidang pembinaan remaja? Atau aku sendiri yang diminta Allah untuk memberikan sesuatu buat hidupnya, memberikan sesuatu manfaat atau suatu yang positif, begitu? Hmm, aku tak tahu, Itu semua masih rahasia-Nya. Tapi satu hal yang aku YAKINI saat itu adalah: YA, ada sesuatu. Ada suatu pesan atau SINYAL dari-Nya. Sinyal tentang 'hubungan'-ku dengan si anak ini. Karena sekali lagi, aku yakin ini semua sudah ia rancang sedemikian rupa. Pertemuan kami yang hingga tiga kali, di tempat dan kisaran waktu yang sama, saya yakin, sama sekali bukan merupakan kebetulan. Semua pasti sudah dirancang-Nya!

Apalagi ada tambahan peristiwa yang begitu mengagetkanku sore itu!
Saat angkot sudah berjalan beberapa menit, tiba-tiba masuk seorang pemuda jalanan. Karena sedikit penuh, ia langsung duduk di pintu. Pemuda itu sangat mengagetkanku, karena penampilannya - mohon maaf - seperti orang yang -ah entah apa namanya - sedang sakau atau habis make atau, fly mungkin lebih tepat.... serius, dan di detik ini, saya ketakutan. Baru pertama kali ini saya melihat sendiri penampakan seperti itu.
Siswa SMP itu pun demikian. Ia memang tak menunjukkan mimik ketakuan yang besar, tapi jelas terlihat dari gesturenya bahwa ia kaget dan heran dengan kehadiran lelaki itu. sekali-kali ia melirik heran ke arah lelaki yang tiba-tiba mengeram sendiri, tiba-tiba lemas sendiri di pintu angkot sambil bersenderan. Tapi beberapa menit kemudian, ia sudah tak ambil pusing dengan lelaki itu. Ia duduk seperti biasa, selayaknya tak ada kejadian apa-apa. Tinggal aku yang masih ketakutan, bagaimana nanti ketika aku turun, jangan2 dia mengejarku (serem-_-).

Peristiwa ini jelas makin membuatku berpikir. Adakah pemuda tadi ada hubungannya dengan pertemuanku dengan anak SMP ini? Kalau ada, huuff.. apakah hubungannya?

Lalu, apa pesan atau sinyal itu?

Hari ini, aku kembali menjalankan rutinitas jadwal les-ku. Hingga sore tiba dan aku harus bergegas pulang. Saat itu, angkutan umum berwarna abu-abu sedang sepi. Sedikit sekali yang lewat, dan sekalinya lewat, pasti penuh :(. Namun, Alhamdulillaah, aku berhasil mendapatkan satu angkutan yang - walau sudah penuh - aku diminta supir untuk duduk di depan saja. Namun sebelum aku naik dan membuka pintu depan. Pandanganku kembali tertuju pada seorang siswa putih biru yang duduk di ujung kursi, pas di samping pintu masuk angkot bagian belakang. Ya, anak itu lagi. Oh, Allah, sinyal apakah ini??
Tadi, pandangan kami sempat beradu. Dan dari pandangannya, bisa kutangkap sebuah kalimat yang menyatakan bahwa ia sudah mengenaliku. Ia tahu bahwa aku adalah si perempuan yang beberapa kali satu angkot dengannya, di waktu yang sama. Apalagi hari ini, aku menggunakan pakaian yang sama dengan yang kupakai saat bertemu dengannya di lain hari.
Aku naik ke depan, dengan pikiran tetap terfokus pada rangkaian skenario ini. Sambil terus memikirkan kira-kira apa maksud Allah membuat cerita seperti ini?
Ketika orang di sebelahku turun, otomatis aku yang memang kurang suka duduk di kursi depan, langsung turun dan pindah ke kursi belakang. Ketika aku masuk, jreeeeng, tepat di seberangku, ada seorang perempuan muda yang sedang memuntahkan sebagian isi perutnya ke dalam kresek hitam. Mohon maaf sekali lagi, ia mengingatkanku dengan pemuda yang seperti sakau tempo hari itu. Walaupun mungkin yang ini bukan sakau.
Perempuan ini menundukkan kepalanya terus menerus, tak pernah ia mengangkatnya. Kaos kakinya bolong di bagian jempol, dan ah.. aku tak mau menerka-nerka lagi. Aku takut meneruskan pikiranku, dan aku pun tak mau berpikir yang bukan-bukan tentang mengapa perempuan muda ini berlaku demikian di depan umum.
Pandanganku beralih ke siswa SMP itu. Ia tetap cuek seperti biasa, walau - aku tak tahu juga sih ya - mungkin ia sempat terheran juga dengan tingkah laku perempuan muda ini saat pertama kali masuk ke angkot. Siswa itu tetap anteng sabil memakan kwetiaw jajanannya.

Ketika aku turun dan hendak mengganti angkot, lagi-lagi aku berpikir. Ya Allah, ini keempat kalinya aku bertemu dengan anak itu, di tempat yang sama dan kisaran waktu yang sama. Dari ratusan pelajar di kota Bandung, yang mungkin sekolah di tempat yang sama dengannya dan pulang di waktu yang sama, dengan jurusan angkutan yang sama, aku yakin seharunya mungkin banyak yang akan kutemui sesering ini seperti ia. tapi mengapa cuma ia yang aku temui sampai empat kali, dan dua di antaranya dibarengi dengan peristiwa aneh dan agak menyeramkan - buat saya -.
***

Sampai titik ini, saya ingin bertanya pada sahabat-sahabat semua. Adakah sabat-sahabat yang memiliki pendapat tentang sepotong skenario hidupku ini? Mungkin aku lebay menanggapinya, tapi entahlah, aku tetap yakin bahwa ada suatu pesan dari serangkaian skenario ini, ada sebuah sinyal dari-Nya, yang aku belum tahu apa maksudnya.

So, anyone has an opinion about this?
Jazakumullaah khair.
semoga kita selalu bisa menjadi orang yang lebih peka terhadap semua sinyal-sinyal-Nya, Aamiin YRA.
Wallahu a'lam bish-shawaab.

Minggu, 11 Agustus 2013

The Power of Forgiveness – Dulu dan Sekarang


Assalaamu’alaikum..
Sahabat, kali ini insya Allah saya akan membahas tentang salah satu 7 karakter powerful Nabi Muhammad SAW, seperti blog saya sebelumnya. Yup, masih dari sumber buku yang sama, yaitu “Powerful Muhammad SAW, 7 sebab yang jarang diungkap dari pengaruh luar biasa seorang Muhammad SAW” karya M. Sonny Sandhy.

Jika sebelumnya kita membahas tentang menjadi pendengar yang baik, maka sifat yang akan dibahas kali ini adalah bahwa Nabi Muhammad SAW selalu memaafkan orang lain terlebih dahulu. Beliau tidak pernah menaruh dendam pada orang yang menyakitinya.
Sebut saja pada peristiwa Fathu Makkah. Dimana, saat itu kaum kafir Quraisy sudah ketakutan akan pembalasan apa nih, yang kira-kira akan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Tapi ternyata, setibanya Nabi di Makkah, Nabi malah menyebarkan rahmat dan cinta kasih kepada orang Mekkah yang selama ini memusuhinya dan ingin menhancurkannya. Pada saat itu Rasulullah SAW memaafkan mereka semua seraya berkata: “Siapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan dia juga selamat.”

Hal serupa dapat juga kita temui pada kisah penduduk Thaif. Ketika Nabi Muhammad SAW dilempari batu oleh penduduk Thaif, Nabi hanya mengatakan, “Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti..”, dan ketika malaikat menawarkan untuk mengubur penduduk Thaif dengan gunung, beliau menolak. Beliau malah mendoakan, “Semoga akan lahir anak keturunan mereka yang menyembah Allah...”.
Nah, ternyata memaafkan yang dicontohkan Nabi ini benar2 memiliki power yang luaar biasa dalam hidup kita! Tak pandang manusia itu agamanya apa, bangsanya apa, sukunya apa.. Gak percaya? Let’s check this out!

Sahabat-sahabat, semalam baru saja saya menonton “Mario Teguh Golden Ways”. Di edisi kemarin, pak Mario membawa tema “menjadi manusia bernilai”. Menjelang sesi akhir, beliau menampilkan sebuah video. 

Apa isi videonya?
Dikisahkan dalam video tersebut, seorang lelaki yang mendapatkan hukuman penjara karena kasus pembunuhan. Malam itu ia sedang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Walhasil, ia menabrak dua orang perempuan hingga tewas. Akibat peristiwa inilah, ia dihukum penjara selama 20 tahun. Kedua orangtua dari masing-masing korban pun merasa puas karena menurutnya, hukum sudah berjalan dengan sangat adil pada si lelaki. Namun, tiba-tiba kabar baik muncul. Sang lelaki dikabarkan bahwa hukumannya dipotong sampai setengahnya! Ya, lama waktu hukumannya berkurang menjadi 10 tahun saja. Tentu saja hal itu mengagetkan si lelaki, walaupun tentu ia sangat senang mendengarnya. Lalu, siapakah gerangan yang mengajukan pemotongan lama hukuman itu?

Tak lain tak bukan adalah orangtua dari korban. Ajaib, Ibu anak itu berkata, “aku telah memaafkannya.”
Jika kita hanya mendengar satu kalimat itu, mungkin menurut kita itu biasa. Tapi lihat kemudian alasan dan efek yang terjadi setelah ia memaafkan (kata-kata udah diedit, tapi intinya sama):
“Awalnya memang saya sangat marah dengannya. Tapi setelah saya pikir, menyimpan marah dan dendam di hati ini tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Yang rugi adalah diriku sendiri, karena seumur hidup sampai aku mati nanti yang tersisa hanyalah perasaan benci, marah, yang sangat tidak nyaman. Malah setelah aku memaafkannya, aku lega. Hidupku terasa nyaman, dan tak ada perasaan yang tertahan.”

Dan tahukah kau kawan? Kini, ibu korban dan si lelaki itu bekerja sama untuk mengisi acara-acara seminar di sekolah. Seminar tentang apa? Seminar tentang ‘Bahaya Mengendarai Mobil dalam Keadaan Mabuk’.
Si lelaki yang telah dimaafkan merasa senang, dan ia kini benar-benar mengakui kesalahannya dulu dan meminta maaf pada ibu korban. Sekarang, sejalan dengan ibu korban, ia pun tak ingin ada kejadian serupa yang terulang. Itulah yang kemudian memotivasinya untuk tetap mengisi seminar dari sekolah ke sekolah bersama sang ibu korban. Subhaanallaah!
Yang awalnya saling benci dan bermusuhan, kini berbalik menjadi kawan seperjuangan dalam menyebarkan kebaikan!!!

Kawanku, ini terjadi di barat sana. Saya memang tidak tahu beliau berdua Muslim atau bukan, karena dalam video memang tidak ditunjukkan identitas agamanya. Namun, yang bisa kita ambil adalah betapa sikap memaafkan terlebih dahulu itu sungguh mulia, serta mempunyai power kebaikan yang sangaaat kuat baik untuk yang memaafkan atau pun yang dimaafkan! Bayangkan, bayangkan, jika seluruh manusia di dunia ini terbiasa bersikap seperti ini. Insya Allah, dunia akan damai sentausa. Dan satu hal yang mendasar yang ditunjukkan dari bukti ini adalah, sikap memaafkan ini menunjukkan fitrahnya manusia. Bahwa pada dasarnya manusia itu baik, tidak tahan dengan yang namanya kejahatan. Maka normal sekali kalau orang yang saling bertengkar dan membenci, pasti tidak akan tenang hidupnya. Karena di dalam lubuk hatinya, ia saaangat tidak menginginkannya.

Yuk, mari belajar jujur terhadap diri sendiri, bahwa kita tak bisa hidup dengan penuh kebencian :). Mari sama-sama belajar saling memaafkan demi terciptanya kehidupan yang damai, insya Allah :)
Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Wassalaamu’alaikum.
"Act what you can act, Allah will do the rest!"

Belajar Bersabar, Belajar Mendengar, Belajar Menyimak :)

Assalaamu’alaikum! J
Kekawan sekalian, beberapa hari kemarin, saya baru selesai membaca buku karya M. Sonny Sandhy yang berjudul Powerful Muhammad SAW (7 Sebab yang Jarang Diungkap dari Pengaruh Luar Biasa Seorang Muhammad SAW).

Buku ini ini mengulas tentang 7 karakter Nabi Besar Muhammad SAW yang membuat dakwah beliau begitu powerful sampai menjadi orang berpengaruh nomor satu di dunia.
Keseluruhan isi buku ini dibagi menjadi 7 bab sesuai masing-masing karakternya. Setiap bab diselingi oleh opini dari para tokoh dunia barat yang mengagumi keluhuran sikap Nabi Muhammad SAW, sebut saja Michael H. Hart, John William Draper, Mahatma Gandhi, David George Hogarth, Washington Irving. Hal ini turut membuktikan bahwa keagungan karakter dan kepribadian Nabi Muhammad SAW memang sudah diakui dunia, tak pandang bangsa dan agamanya.

Nah, salah satu karakter tersebut adalah pendengar yang baik, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.
Menurut penulis, banyak sekali orang (apalagi Indonesia) yang senang berbicara, ingin didengar dan diperhatikan. Tapi sedikit sekali di antara kita yang mau mendengar perkataan orang lain secara seksama dan penuh simpati, serta tidak memotongnya. Padahal kita semua sudah tahu bahwa kita dianugerahi dua telinga dan (hanya) satu mulut. Dimana itu mengindikasikan bahwa seharusnya kita memang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Karena sesungguhnya banyak bicara itu bisa menjadi pintu gerbang kesalahan dan dosa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud r.a., “...Tidak sesuatu pun di dunia ini yang lebih berhak untuk ditahan dalam waktu yang lama daripada lidah.” Ucapan (lidah) kita bila tidak ditahan sangat dapat menjadi pintu bagi kesalahan dan dosa.

Dalam buku ini dicontohkan sikap Rasul sebagai pendengar yang baik adalah ketika Utbah bin Rabi’ah diutus kaum Quraisy untuk bernegosiasi. Rasulullah dengan sabar dan penuh perhatian terus mendengarkan perkataan Utbah hingga ia benar-benar selesai. Bahkan sebelum Nabi memulai perkataannya, ia menanyakan terlebih dahulu pada Utbah, “sudah selesaikah, wahai Abdul Walid?” Ketika berbicara pun, Nabi hanya berbicara seperlunya. Beliau hanya menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an dan meminta Utbah menentukan sikapnya. Di akhir cerita, ketika Utbah menyampaikan apa yang baru terjadi kepada orang2 kafir Quraisy, orang2 kafir tersebut malah berkata, “kau telah disihir oleh perkataannya.”

Sahabat-sahabat, ketika kita menjadi pendengar yang baik, bukan berarti kita diam pasif atau tidak mempunyai sesuatu untuk disampaikan. Justru ketika kita menjadi pendengar yang baik, kita sedang melakukan aktifitas 'diam aktif', dan saat itulah seorang pembicara yang hebat akan lahir. Karena dengan kita mendengarkan lawan bicara dengan penuh perhatian, kita bisa mengenali lebih dalam dan detail tentang bagaimana sebenarnya masalah atau informasi yang ia sampaikan. Lebih jauh lagi kita pun bisa melihat bagaimana kepribadian si lawan bicara. Alhasil, ketika tiba waktunya kita merespon (berbicara), kita bisa sampaikan informasi yang lebih akurat.
Informasi pun kita sampaikan dengan metode dan cara yang tepat, yang dapat diterima dengan mudah oleh si lawan bicara, karena kita sudah tahu kepribadian/sifat lawan bicara kita seperti apa. Dengan menjadi pendengar yang baiklah, kata-kata yang kita ucapkan bisa menjadi lebih powerful dan ngena, tidak asal-asalan, seperti kata-kata Nabi Muhammad SAW yang sangat powerful. Pendengar yang baik juga sudah pasti merupakan pembicara yang baik. Maka dari itu, yuk kita sama-sama belajar dan bersabar untuk menjadi pendengar yang baik J.

Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Wassalaamu’alaikum J

Act what you can act, Allah will do the rest”

Senin, 05 Agustus 2013

Jangan mau investasi buat KESEHATAN!

Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Assalaamu'alaikum Sahabat! Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan, Aamiin. Tulisan ini dibuat hanya untuk saling mengingatkan antar manusia (berarti saya juga hehe). Mudah-mudahan setelah baca tulisan ini, ada nilai positif yang bisa sahabat2 ambil. Aamiin. Oke. Capcus..

SREEEENG (Bunyi Tirai dibuka-kayak mau nonton layar lebar-)
**********************
[BUKAN TULISAN ILMIAH]

Sahabat, pernah dengar kata SEHAT?
Apa sih artinya?
Hm, kalau kata salah satu dosen patofisiologi (ilmu yang mempelajari tentang kondisi tubuh saat kondisi abnormal alias sakit, mulai dari awal mula penyakit, proses, sampai akibatnya) di kampus saya, SEHAT itu kondisi seimbang antara MIND, BODY, and SOUL. Itu artinya tubuh dalam keadaan normal. Normal itu gimana? ya normal, tidak ada gangguan dalam sistem dan kerjanya. Kalau bagi teman2 kedokteran atau farmasi atau Biologi, bayangan tentang bagaimana keadaan tubuh yang normal itu bisa dipelajari di mata kuliah Anatomi-Fisiologi Manusia (Anfisman). Eits, tapi bukan hanya tubuh saja loh, sesuai tiga kata tadi, maka pikiran dan jiwa kita pun harus dalam keadaan normal.

WIDII, susah dong ya kalau mau dibilang SEHAT?
Jangan-jangan, kita semua di sini masih tergolong kelompok orang sakit lagi? Tubuh sehat tapi hati galau #ups. Hehe. Bisa jadi-bisa jadi.

Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih ujug-ujug saya ngomongin sehat?
Jadi gini, sahabat-sahabatku, hm.. sebenarnya inspirasi tulisan ini datang setelah saya membaca sebuah buku tentang Menikah!

Loh? Kok?
-_-

Jadi mau ngomongin nikah nih?
BUKAN! BUKAAN! (--> game Indonesia Pintar)
Terus mau ngomongin apa?
Sesuai judul, ngomongin KESEHATAN!

Ya! Buku karya teh Foezi Citra (@fufuelmart) dan suami, kang Canun Kamil (@canunkamil); Romantic Couple, Relationship Trainer, yang saya baca ini berjudul "Menikah Itu Mudah" (coba di-googling kalau yang belum tahu).
Lalu apa hubungannya dengan KESEHATAN?
Oh ada.. Di salah satu bab dalam bukunya, dibahas suatu topik tentang kesehatan. Yang dampaknya itu membuat saya merenung lebih lama tentang kebiasaan saya dulu (makanya pas baca bukunya, saya serasa ditampar hehe), dan kebiasaan beberapa teman-teman saya di kampus, Masjid Salman, dan sekitarnya. (Apalagi mengingat saya adalah seorang mahasiswi di bidang kesehatan! Nah Lo... jadi malu plus 'serasa' nambah beban aja). Emang apa sih yang dibahas? Hmm, tentang investasi untuk hidup SEHAT.

Langsung mulai aja ya. Tapi sebelumnya, sisi SEHAT yang mau saya bahas kali ini insya Allah lebih ke sisi BODY, daripada MIND and SOUL. Yuk kita simak! :)
***
Pernah gak sih sahabat sekalian merasa, betapa gagahnya, betapa kuatnya, betapa sehat dan bugaarnya kita di masa muda?

Ya, seperti sekarang ini! Kita masih muda. Masih segaar bugar. Semua aktifitas kita lahap. Ada yang dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam full of activity. Agendanya?
Pertama ikut aktifitas A dari kampus, aktifitas B dari organisasi Z, aktifitas C dari komunitas Y, aktifitas dari tempat kerja paruh waktu, dan seterusnya dan seterusnya.
Itu pas masih kuliah (biasanya para aktifis ya? tapi yang aktifis akademik juga bisa sih kayak gitu-Laboratory Mode On-hehe). Belum lagi kalau sudah kerja. Waah, bisa lebih jontor-jontoran lagi.

Pokoke, Semangat 45 deh menjalani semua aktifitas itu!
Kerja keras, peluh keringat, tulang yang patah gara2 dibanting (kan istilahnya banting tulang ya? #eh hehe --> maaf #salahfokus), udah jadi hal yang biasa. Sampai perut lapar pun terabaikan. Ya, ini niiih masalah yang biasa banget terjadi di kalangan muda mudi. Apalagi usia-usia mahasiswa, yang katanya masa-masanya kelebihan energi.

Makan pagi/siang/malam sering dilewat gitu aja, bablass.. Kadangkala ada teman yang mengingatkan, dijawabnya, "Hehe, gak apa-apa kok. Udah biasa. Di-rapel juga sering, hehe." (Rapel: dua waktu makan digabung ke satu waktu, misal: makan pagi digabung ke makan siang).
Ini mungkin masih mending karena minimal masih ada asupan, nah lo, kalau yang sama sekali gak ada asupan gimana??
"Gue kuat kok! Nih buktinya sehat-sehat aja!"

Ya iya sih.. Masih kuat, ya, memang masih kuat. Kan masih muda juga!
Dan hal seperti itu terus berlanjut, bahkan beranjak jadi sebuah kebiasaan.
Kita teeruus bekerja keras demi mendapatkan kebutuhan kita, impian kita dan capaian lainnya. Tanpa kenal lelah, bahkan tanpa kenal sehat..

Lalu ketika usia tua sudah mulai menyapa, apa yang kita lakukan?
Biasanya, banyak yang ketika sudah tua, kesehatan mulai menurun. Jreng jreng, penyakit-penyakit kecil mulai datang. Dari batuk-batuk kecil, eeh, kok ternyata batuknya jadi sering, tiap hari muncul.. Atau yang tiba-tiba sering jatuh. Lambat laun, ternyata penyakit-penyakit kecil itu, berkembang menjadi sebuah penyakit yang... mematikan. Haduh, Na'udzubillaahimindzaliik..
Kalau sudah seperti itu, ngapain lagi selanjutnya?
Ya, tentu kita akan berusaha mati-matian untuk menyembuhkannya! Dengan cara apa? Oh, banyak cara dong.. Pergi ke dokter, beli obat sana-sini, konsultasi gizi, atau pengobatan tradisional. Gak sembuh? Cari lagi cara laain! Tapi mahal? Biariiin. Keluarin aja semua uang, pokoke papa harus sembuuh!!! (ini lebay, ceritanya ala sinetron hehe).
Yap! Kita bakal banting tulang ngeluarin semua duit, bahkan tabungan kita untuk mengobati sakit tersebut. Harapannya kita bisa segera sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga dengan tenang.

Hmm, kalau kita pikir-pikir kembali, itu berarti..

di WAKTU MUDA tadi, yang pas semangat-semangatnya kerja+berkarya, sebenarnya kita lagi INVESTASI untuk membiayai SAKIT di masa tua dong??

IYA! Bisa jadi, bisa jadi!
Laah, rugi dong kita?
Rugi banget sih sebenarnya.......

Ya terus gimana?
Nah, maka dari itu, ungkapan, "Mencegah itu lebih baik daripada mengobati" itu bener banget loh, sahabat.
Ketika muda tadi misalkan, mungkin, karena keuangan masih pas-pasan, atau belum punya penghasilan sendiri, itu juga yang menyebabkan kita jadi berhemat super ketat hehehe. Tentunya objek penghematan yang paling oke adalah biaya makan! Gak aneh makanya kalau banyak sekali yang suka rapel waktu makan, atau sama sekali gak makan.

Bahaya gak sih?
Sebenarnya, gak begitu bahaya. Kalau itu tidak menjadi sebuah kebiasaan. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan? Ya bahayaaa..
Seminimal-minimalnya, jika sedang tidak puasa/shaum, makanlah. Makannya gak harus nasi kok. Bisa roti atau buah. Atau cukup telor 3 biji digado hehe. Terus harus tiga kali sehari? Iya.. Biasakan tiga kali sehari. Pagi-siang-malam.
Biayanya? Biaya itu sebenarnya bisa ditekan, bisa diakali. Apalagi yang mahasiswa. Waaah, pasti jagonya ini kalau soal penghematan. Bisa dengan mencari tempat yang memang menawarkan biaya paling murah, atau dengan menu kombinasi yang dapat menekan biaya makan secara drastis (hehe). Atau yang paling enak, yaaa... ikut acara, terus cari gratisan!
di ITB contohnya. Kantin yang paling murah di mana?
Kalau setahu saya, hingga sejauh ini, yang paling murah untuk makanan berat ada di kantin Salman ITB. Kalau kita makan di kantin dalam kampus ITB, makanan berat paling murah 6000 (eh atau 7500 ya?). Itu juga kadang bukan paket lengkap, atau ada yang menunya bubur. Atau nasi kuning yang pake kotak plastik tea, harganya 4000-5000an. Cuma kadangkala itu gak bersih dan ada saja yang (maaf) sudah lewat tanggal baiknya.
Kalau di Salman? Wiih, insya Allah kurang dari 5000 kita udah bisa makan lengkap nasi-lauk-sayur. Gak percaya? Ya harus percaya.
Ini salah satu kombinasi menu yang saya coba, dan harganya di bawah 5000! >> Nasi setengah porsi, tempe goreng/mendoan, sayur (sayur sop, pokoknya jangan sayur yang aneh2 hehe).
Kalau gak kenyang gimana? apalagi yang laki2, biasanya kan ngambil nasinya segunung hehe. Ya itu dia, harus dibiasakan agar nasi segitu cukup. Insya Allah cukup kok, karena sebenarnya tubuh kita itu gak terlalu  butuh banyak nasi, kan?? Kalau kebanyakan nasi bisa jadi malah kebanyakan glukosa dan jadi risiko diabetes. Dan hati-hati, akibat lainnya kalau input energi (alias bahan makanan) lebih besar daripada output (energi yang kita keluarkan untuk beraktifitas), ya bisa jadi.. timbunan lemak. Karena energinya gak kepake. Sehat atau gak? Bisa sehat, bisa gak.

Cara lainnya biar tetap sehat, tapi hemat?
Shaum? Bisa jadi kok. Tapi shaumnya kalau bisa memang benar2 diniatkan karena ibadah sunnah ya. jangan hanya karena mentang2 mau hemat uang. dan jangan keseringan juga, sampe setiap harii weekdays gitu..(kecuali  bulan Ramadhan hehe). kalo rutin senin-kamis tiap minggu masih oke kok :)

Sekarang coba kita hitung biaya yang kita keluarkan untuk makan dalam seminggu??
Sampaikah puluhan juta, sahabat??
Saya yakin insya Allah gak. kecuali kalau biaya makannya dihitung untuk 20 tahun. Ya mungkin aja lebih dari puluhan juta hehe.
BANDINGkan dengan biaya yang harus kita keluarkan bila hal itu sudah terlanjur menjadi penyakit. Wih, bisa nyampe puluhan juta itu, apalagi kalau sampai harus operasi dan sebagainya.... See? Insya Allah tidak MAHAL, bila diBANDINGkan dengan akibat yang akan kita dapatkan di hari tua. Gak usah hari tua deh, kita gak pernah tahu loh, mungkin aja masih di usia 20an, penyakit bahaya itu sudah datang.

Contoh lainnya..?
Ini mungkin untuk yang sudah kerja dan punya penghasilan tetap.
Seringkali kita masih meremehkan yang namanya "General Check-Up".
Padahal, dengan melakukan General Check-Up, itu merupakan tindakan preventif kita dari penyakit-penyakit bahaya tadi. Preventif itu apa? Tindakan pencegahan! Ya, dengan melakukan General Check-Up, itu berarti kita sudah melakukan salah satu langkah deteksi dini..Deteksi gejala/tanda-tanda penyakit sejak awal, sebelum ia membesaar, membesaar, dan berrbahaya. Kalau udah tahu sejak si penyakit masih kecil manfaatnya apa? Ya tentu saja kita bisa menjaga si penyakit itu supaya gak makin membesar. Asik aja atau asik banget??
Insya Allah, asik banget!

Sekarang, biaya check-up berapa?
Insya Allah kisarannya ratusan ribu sampai juta (tapi tidak sampai belasan atau puluhan juta).
Mahal? Mungkiin..
Tapi, jika kita BANDINGkan dengan biaya pengobatan penyakit yang sudah membesar??
Biayanya bisa sampai puluhan juta.
Mana yang murah, General Check-Up di masa muda, atau menunggu sampai sakit membesar dan membayar puluhan juta?

you DECIDE!

:)

So, mulai sekarang, gak ada salahnya kita coba LATIH dan BIASAkan untuk mau INVEST hidup SEHAT. Bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan kita kok. Gak perlu yang maksa-maksa juga. Masing-masing dari kita pasti tahu ukuran yang terbaik buat kita, bisa dihitung2 dan dipertimbangkan sendiri.
ya sudah yuk, kita mulai..
Mulai dari hal terkecil.
Mulai dari diri sendiri, gak usah nunggu orang lain ngerjain..
Mulai saat ini juga.
Mulai dengan BASMALAH :)

Cara-cara di atas tadi belum cukup? Tenang, insya Allah, kalau niatnya memang baik, kalau niatnya untuk bersyukur atas nikmat tubuh dan kesehatan ini, akan ada banyak jalan untuk memperjuangkannya.

Seimbangkan juga diri kita dengan aktifitas olah pikir dan olah ruhiyah (MIND and SOUL). Biarkan otak kita dipenuhi pikiran yang positif dan membangun, hindari berpikir negatif. Jadwalkan juga amalan yaumiyah secara rutin, agar diri ini tak pernah lepas dari-Nya.

Demi masa depan yang lebih SEHAT, CERIA, KUAT, so pasti kuat berkarya dan beramal juga, Aamiin...
Siap?
Siiiiap INSYA ALLAH!
:)

Wallahu a'lam bish-showab.
Wassalaamu'alaikum.
*Aliya Nur Zahira* @azahira